Mulai Dari Belajar Secara Online, Avicii Jadi DJ Dengan Bayaran Termahal di Dunia

Avicii (Instagram Avicii)
21 April 2018 16:10 WIB Muhammad Rizal Fikri Entertainment Share :

Solopos.com, SOLO – Industri musik dunia sedang berduka. Musisi, DJ, sekaligus produser musik Tim Bergling alias Avicii meninggal dunia, Jumat (20/4/2018). Avicii meninggal dunia di Muscat, Oman. Ia meninggal di usia 28 tahun, tak diungkap secara pasti penyebab meninggalnya Avicii.

Dikutip dari Wmagazine.com, Sabtu (21/4/2018), Avicii merupakan pria kelahiran Stockholm, Swedia, 1989. Ia merupakan putra dari Klas Bergling dan Anki Liden. Ibunya merupakan aktris papan atas di Swedia. Musik telah menjadi bagian hidup Avicii sejak kecil. Semenjak remaja Avicii sudah menaruh perhatian lebih di jenis musik elektronik.

Ia menjadi aktif mengikuti blog dan forum tentang musik elektronik. Salah satunya forum online yang dibuat DJ berdarah Belanda-Filipina, Laidback Luke. Sembari belajar melalui blog dan forum, Avicii mulai membeli software produksi musik dan membuat karyanya sendiri.

Ia mengunggah karyanya melalui media sosial My Space. Inilah julukan Avicii lahir, saat ia akan membuat akun nama Tim Bergling sudah dipakai orang lain, sehingga muncullah julukan Avicii yang terinspirasi dari agama Budha. Musik berjudul ManMan milik Avicii yang ia unggah di My Space mengundang respons positif. Klub promoter Ash Purnouri mengontak Avicii karena kagum dengan karya-karyanya.

“Dia [perwakilan Ash Pournouri] mengatakan banyak hal besar. Saya akan membuatmu sebagai seniman paling sukses di dunia dalam kurun dua tahun. Kamu akan lebih sukses dari pendahulumu,” ucap Avicii menirukan perwakilan Ash Pournouri saat menemuinya di tahun 2007.

Semenjak saat itu Avicii belajar menjadi DJ. Sebelum menjadi musisi arus utama yang mendunia, pada 2010 Avicii sudah terkenal di beberapa negara seperti Swedia, Belgia, Inggris, dan Australia. Tangga kesuksesan semakin terlihat saat Avicii berkolaborasi dengan musisi dunia seperti Madonna, Lenny Kravitz, dan Leona Lewis. Sebelum 2012 Avicii menjadi DJ yang dibayar Rp3,4 Miliar untuk satu acara.

Avicii memiliki peran besar untuk salah satu festival musik elektronik terbesar di dunia Ultra Music Festival. Pada 2011 Avicii mulai mengisi di acara tersebut. Pada 2012 festival tersebut mencetak rekor pengunjung sebanyak 165.000 pengunjung. Salah satunya berkat aksi Avicii di hari pertama festival tersebut.

Pada 2013, sebuah hotel diganti nama dengan The Avicii Hotel selama Ultra Music Festival. Kamar-kamar dinamai dengan lagu-lagu Avicii, menu dan minuman dibuat dengan inspirasi apapun yang berhubungan dengan Avicii. Berkat Avicii juga untuk pertama kalinya Ultra Music Festival memainkan musik country. Hal itu terjadi saat aksi Avicii yang awalnya menjadi DJ kemudian berubah menjadi personel band country.

Lagu Wake Me Up bisa dibilang karya terbesar Avicii. Lagu yang rilis 2013 itu mampu memuncaki berbagai kategori di daftar terbaik Billboards. Selain memuncaki kategori untuk musik-musik elektronik. Lagu tersebut juga memuncaki Adult Top 40 dan Mainstream Top 40 yang biasanya dipuncaki musik-musik genre arus utama.

Masalah kesehatan menjadi penghalang Avicii untuk terus terbang tinggi di ranah musik elektronik. Pada 2014 Avicii batal mengisi Ulta Music Festival. Dia harus masuk rumah sakit karena keluhan sakit perut akut, demam, dan mual. Hal itu disebabkan kantung empedu Avicii tak berfungsi baik. Avicii akhirnya divonis menderita inflamasi pankreas akut yang disebabkan berlebihnya konsumsi minuman beralkohol. Penyakit itu menyebabkan pankreas dan kantung empedu Avicii diambil.

Kondisi Avicii membaki setelah istirahat berbulan-bulan. Ia mampu mengikuti Ultra Music Festival 2015 dan 2016. Namun saat mengisi festival itu pada 2016 Avicii mengumumkan akan istirahat satu tahun dari pertunjukan live. Belum sampai satu tahun, pada 26 Agustus 2016 Avicii kembali konser sekaligus memperkenalkan beberapa single. Konser itu adalah persembahan terakhir Avicii untuk memastikan pamit dari dunia live concert untuk selamanya.

“Perjalanan ini seru sekalil Saya mulai membuat musik pada usia 16 tahun. Saya mulai tur usia 18 tahun. Sejak saat itu hidupku hanya untuk musik. Saat aku melihat ke belakang, aku hampir tak percaya dengan apa yang aku lakukan. Itu adalah masa-masa terbaik di hidupkua, meski banyak tekanan, masa-masa itu tetap yang terbaik,” jelas Avicii kepada Bilboard pada 2016.

Setelah tak lagi mengadakan konser, Avicii masih aktif membuat musik. Ia bahkan merilis satu album berjudul Avici (01) yang dirilis Agustus 2017. Semenjak awal kesuksesannya hingga sebelum pensiun, Avicii selalu masuk di lima besar daftar DJ dengan bayaran termahal di dunia.