Bukan The Final Count Down, Inilah Kejutan Europe di Boyolali

Kerumunan penonton padati panggung saat Godbless tampil dalam Volcano Rock Festival 2018 di Stadion Pandanarang Boyolali, Sabtu (12/5/2018). (Salsabila Anisa - Harian Jogja)
13 Mei 2018 00:05 WIB Akhmad Ludiyanto Entertainment Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Soal nama besar, Europe sudah memiliki segalanya. Nama besar itu pula yang membuat ribuan orang terbang jauh dari berbagai penjuru Indonesia, bahkan dari Eropa, menuju Boyolali demi menjadi saksi legenda asal Swedia ini kembali ke panggung tur dunia.

Namun seperti diduga, bukan Carrie atau The Final Countdown, dua hit paling sukses sepanjang karier mereka di industri musik, yang membuka konser malam ini. Di Stadion Pandanarang, Boyolali, Sabtu (12/5/2018) malam, Joey Tempest dkk memulai interaksinya dengan publik Soloraya dengan Walk The Earth, sebuah lagu yang barangkali belum begitu populer di telinga orang Indonesia.

Tokopedia

Walk The Earth adalah bagian dari album studio terakhir Europe dengan nama yang sama. Album yang baru dirilis pada 20 Oktober 2017 itu berisi sejumlah lagu yang tak hanya baru, tapi juga disisipi pesan-pesan demokrasi dalam lirik-liriknya -- meski bukan berupa kritik tajam. The Siege misalnya, liriknya berbicara tentang Revolusi Prancis dan awal demokrasi di negara itu, atau Election Day yang membicarakan pemilu di Inggris dan Amerika Serikat.

Europe pun membawa nama besar itu untuk memperkenalkan album studio termutakhir tersebut. Namun, tetap saja mereka memberikan slot playlist mereka untuk lagu-lagu "flagship" di era 1980-an yang memang ditunggu para fans

Ekspektasi publik untuk mendengarkan kembali lengkingan suara JoeyTempest dalam Carrie dan The Final Count Down secara live memang begitu besar. Demi momen langka itu, penonton kelas festival mulai beranjak dari tempat mereka duduk di lapangan rumput Stadion Pandanarang. Mereka menuju ke depan panggung berukuran 16 meter x 12 meter menghadap ke barat atau menghadap ke tribun VIP.

Setelah satu jam menunggu setting peralatan band di panggung, ribuan fans diperdengarkan lagu-lagu baru itu, Walk The Earth, disusul The Siege dan Rock. Deretan lagu hits dari 11 album yang sudah dicetak grup asal Swedia ini dibawakan Joey dengan penuh energi. Hit klasik seperti Carrie, Prisoner In Paradise, dan The Final Count Down akhirnya dilantunkan untuk memuaskan para penonton penggemar rock klasik.

Sementara itu, pada jeda antarlagu, Joey beberapa kali menyapa penonton dengan Bahasa Jawa seperti "apa kabare, ayo nyanyi, dan matur suwun [terima kasih], yang langsung disambut gempita penonton. Ucapan ini mungkin adalah kejutan yang dijanjikan Europe saat konferensi pers bersama God Bless di Gedung Putih Kantor Bupati Boyolali, Jumat (11/5/2018).

Namun Joey sempat membuat penonton tertawa lebih keras saat dia mengaku bahwa dia tidak tahu arti kata-kata yang dia ucapkan tersebut. "I don't know what I'm talking about [saya enggak tahu saya ngomong apa]," ucapnya sebelum melanjutkan lagu ke-8 dari 20 lagu yang mereka bawakan malam itu, termasuk solo drum sang drummer Ian Haugland.

Kangen, barangkali itulah sumber antusiasme berasal. Konser ini memang disaksikan penonton yang sebagian besar sudah berusia matang dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan manca negara. Maklum, generasi milenial banyak yang belum lahir saat The Final Count Down memuncaki chart Billboard saat itu.

Seorang pengemudi perusahaan persewaan mobil di Solo, Dian, 30, mengatakan, dia mengantar 6 turis asal Prancis untuk menonton konser ini. "Mereka sedang tur ke Indonesia ke beberapa tempat dan salah satu tujuannya adalah konser ini. Mereka sudan beli tiket jauh-jauh hari secara online," ujar Dian. Turis itu juga sengaja membeli tiket kelas festival agar bisa berbaur dengan penonton.