Larangan WNI Masuk Israel, Industri Travel Indonesia "Gagal Panen"

Bendera Israel terlihat di dekat Dome of the Rock, yang terletak di Kota Tua Yerusalem. - Reuters
07 Juni 2018 19:30 WIB Deandra Syarizka Entertainment Share :

Solopos.com, JAKARTA -- “Hanya bisa menunggu dan berdoa. Wait and pray.”  Demikian ungkapan pasrah Rio Pattiselanno menanggapi aksi pelarangan Israel terhadap warga negara Indonesia (WNI) untuk mengunjungi Yerusalem, kota suci tiga agama samawi; Islam, Kristen, dan Yahudi.

Pria yang menjabat sebagai Direktur Rhema Tours, sebuah biro perjalanan wisata yang 95% menangani wisata ziarah Kristiani, itu memang kini hanya bisa menunggu dan berdoa. Pasalnya, larangan Israel yang berlaku per 9 Juni 2018 itu menghilangkan potensi laba biro asal Surabaya tersebut.

Biro perjalanan yang telah melayani wisata ziarah selama 14 tahun itu telah mendapatkan pesanan 3.000 paket wisata ziarah Kristiani ke Israel hingga 2019. Bahkan, pemesanan itu telah dilakukan sejak awal tahun ini.

Dia menilai, pelarangan yang bersifat tiba-tiba itu memukul bisnis pariwisata outbond, terutama wisata religi seperti yang dilakukannya.  Apalagi, pelarangan tersebut dilakukan mendekati puncak musim liburan, di mana banyak pemeluk Kristen yang berencana memanfaatkan cuti bersama Idulfitri untuk melakukan wisata ziarah ke situs suci, Gereja Makam Kudus.

“Kami masih terus berupaya berkomunikasi dengan pihak Israel. Kami juga menyampaikan kepada para pendeta [yang akan berangkat wisata ziarah] untuk menunggu dan berdoa, karena kami tidak tahu bagaimana harus melangkah. Hanya bisa wait and pray, karena ini bisa dikatakan force majeur [kondisi kahar],” curhatnya kepada Bisnis/JIBI.

Di tengah isu travel ban yang dilakukan sebagai balasan Israel terhadap dukungan Indonesia untuk kemerdekaan Palestina itu, Rio mengaku telah menawarkan sejumah solusi bagi pelanggannya.

Di antaranya dengan mengganti rute ziarah lain ke Mesir, Yordania, atau Turki. Namun, tetap saja, dia terpaksa melakukan pengembalian dana bagi wisatawan nusantara (wisnus) yang melakukan pembatalan.

Rio menjabarkan di Tanah Air terdapat setidaknya 85 biro perjalanan wisata ziarah Kristiani. Rata-rata satu grup dapat menggawangi 20 paket perjalanan dengan frekuensi tiga hingga empat kali per bulan. Bila ditotal, dia mengestimasikan jumlah WNI yang melakukan wisata ziarah Kristiani dapat mencapai setidaknya 5.100 orang per bulan atau sekitar 61.200 jiwa per tahun.

Adapun, harga rata-rata paket wisata ziarah Kristiani dibanderol Rp20 juta—Rp40 juta tergantung akomodasi, dengan lama penginapan 9—12 hari. Dengan demikian, kerugian biro-biro itu akibat pelarangan Israel diestimasikan mencapai tak kurang dari Rp1,22 triliun.

Itu baru menghitung dari wisata ziarah Kristian, dan belum menghitung dampak pariwisata outbond yang dialami oleh pengusaha biro wisata religi muslim.

Lazim diketahui, banyak biro umrah plus yang menyertakan Masjid AL-Aqsa dalam paket perjalannnya, mengingat masjid tersebut adalah kiblat pertama umat muslim, sekaligus masjid suci ketiga terbesar setelah Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah

Ketua Asosiasi Serikat Penyelenggara Umrah Haji Indonesia (Sapuhi) Syam Resfiadi menilai, pemberhentian pemberian visa wisata bagi pemilik paspor Indonesia ke Israel sangat berdampak bagi wisatawan muslim yang ingin berkunjung ke Masjid Al-Aqsa. “Untuk muslim yang rencananya mau Lebaran ke sana, tetapi dibatasi 9 Juni terakhir boleh masuk, maka programnya akan berubah. Bisa jadi diubah hanya ke Yordania saja,” ujarnya.

Syam mengaku tengah menanti keputusan dari rekanan biro perjalanan di Israel mengenai ganti rugi atas larangan tersebut terhadap biaya yang telah dikeluarkan untuk akomodasi para jemaah. Bila tidak dapat dikembalikan, dia mengaku kerugian tersebut terpaksa ditanggung oleh jemaah.

Setiap tahunnya terdapat sekitar 100.000—150.000 wisatawan muslim yang berkunjung ke Masjid Al-Aqsa sebagai bagian dari perjalanan ibadah umrah, di mana puncaknya biasa terjadi saat Ramadan. Angka itu belum termasuk sekitar 25.000 wisatawan muslim yang mengadakan perjalanan khusus ke Masjid Al-Aqsa di luar umrah.

Dia menyebutkan, biaya paket umrah plus yang menyertakan kunjungan ke Masjid Al-Aqsa biasanya dibanderol Rp40 juta, sedangkan paket perjalanan khusus ke Masjid Al-Aqsa dihargai sekitar Rp25 juta.

Dari nilai tersebut, diperkirakan potensi kerugian yang dialami biro perjalanan untuk paket khusus wisata religi ke Masjid Al-Aqsa saja mencapai Rp625 miliar. Adapun, untuk umrah plus, Syam mengaku potensi kerugian bisa diminimalisasi dengan mengalihkan rute perjalanan ke destinasi wisata religi Islam alternatif lainnya.

Untungnya, saat ini pasar wisata halal di dunia terus berkembang, dan semakin banyak negara yang serius mengembangkan wisata halalnya, sehingga tidak sulit untuk mencari alternatif wisata religi Islam sebagai pengganti Israel.

“Dalam waktu bersamaan, hampir semua biro perjalanan muslim berinovasi dengan produk baru seperti turn muslim Eropa, Eropa Timur, Maroko, Spanyol, Tunisia, Aljazir, Kairo, Asia Tengah, Turki, bahkan hingga ke Asia seperti Thailand dan Jepang. Memang tidak sepopuler umrah berangkat ke Al-Aqsa, tetapi bisa menjadi pilihan,” jelasnya.

Pukulan Berat

Sebelumnya, Ketua Association of Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Asnawi Bahar menjelaskan, larangan bagi wisatawan nusantara untuk berkunjung ke Israel-Palestina menjadi pukulan tersendiri bagi industri pariwisata.

Dia menilai seharusnya industri pariwisata justru memetik keuntungan di momentum libur panjang Lebaran. Namun, dengan adanya larangan ini, potensi tersebut menjadi hilang dan tidak bisa dimanfaatkan.

“Ini menjadi pukulan berat bagi kami. Kami harus menyelesaikan, bagaimana tiket pesawat tidak hangus, apakah konsumen mau terima hotel dijadwal ulang, sampai pengembalian uang. Kebijakan suatu negara menjadi beban yang berat bagi kami, karena kami menjual jasa,” ujarnya.

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata Israel seperti dilansir www.globes.co, Minggu (3/6/2018), jumlah wisatawan mancanegara yang mengunjungi Israel mencapai 1,36 juta sepanjang Januari—April 2018, tumbuh 25% dari periode yang sama tahun lalu.

Namun, situasi keamanan yang mengkhawatirkan diprediksi akan membuat upaya pemerintah Israel untuk melampaui capaian turis tahun lalu sebanyak total 3,6 juta turis menjadi semakin berat. Kendati terus menunjukkan peningkatan, sejatinya kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Israel masih sangat kecil.

Berdasarkan data World Travel & Tourism Council (WTTC),  kontribusi langsung pariwisata hanya menyumbang 1,7% dari total PDB 2017, atau senilai US$5,8 miliar, dan diperkirakan meningkat menjadi 3,8% pada tahun ini.

Sementara itu, total kontribusi pariwisata terhadap PDB Israel pada 2017 menembus US$21,1 miliar, atau 6% dari total PDB 2017. Jumlah ini diperkirakan bertambah menjadi 6,5% dari PDB pada 2018, atau setara dengan US$34,6 miliar.

Keberanian Israel untuk melakukan pelarangan bagi wisnus barangkali menjadi cerminan dari masih rendahnya kontribusi pariwisata dalam menggerakkan perekonomian negara itu. Namun, yang jelas, banyak pihak yang dirugikan atas keputusan tersebut.

Selain biro perjalanan wisata outbond di Tanah Air, yang paling dirugikan tentu adalah masyarakat yang kehilangan haknya untuk beribadah dan mengunjungi tempat sucinya di Yerusalem. Sampai kapankah kondisi ini akan berlangsung?

Tokopedia