Gending Puspawarna Siap Mengalun di Pembukaan IGF

Para pesinden dan pengrawit senior Solo saat latihan pembukaan International Gamelan Festival (IGF) di kediaman maestro gamelan Rahayu Supanggah, daerah Jaten, Karanganyar, beberapa waktu lalu. (Solopos/Ika Yuniati)
31 Juli 2018 15:41 WIB Ika Yuniati Entertainment Share :

Solopos.com, SOLO - Gending Ketawang Puspawarna bakal membuka hajatan akbar International Gamelan Festival (IGF) di Benteng Vastenburg, Kamis (9/8/2018) malam. Pertunjukan itu melibatkan puluhan pengrawit dan pesinden andalan Solo seperti Peni Candra Rini, Endah Laras, Cahwati, serta sinden sekaligus dalang cilik Woro Mustiko Siwi. Di bawah komando tangan dingin maestro gamelan, Rahayu Supanggah, gending klasik tersebut dipastikan membawa penonton pada pengalaman magis sebelum menyaksikan gelaran spektakuler lainnya.

Gending yang biasanya dibunyikan sebagai tanda kedatangan pangeran maupun untuk mengiringi tarian ini bukanlah tembang biasa. Pernah masuk dalam rekaman phonograph berupa Voyager Golden Record yang diluncurkan wahana Voyager I ke angkasa luar oleh National Aeronautics and Space Administration (NASA) atau badan antariksa Amerika Serikat pada 1977. Voyager Golden Records berperan sebagai profil audio yang dianggap mewakili bumi. Selain gendhing Ketawang Puspawarna konten rekaman juga berisi kalimat salam sapaan 55 bahasa, suara-suara alam, dan beberapa musik yang mewakili bumi.

Berdasarkan penelusuran solopos.com di Perpustakaan Pura Mangkunegaran Solo, teks dan melodi Ketawang Puspawarna laras slendro pathet manyura merupakan hasil karya K.G.P.A.A. Mangkunagara IV. Tertulis dalam buku berjudul Karangan Pilihan K.G.P.A.A. Mangkunagara IV (1992) terbitan Yayasan Centhini Jogja. Gending ini memuat lirik tentang berbagai jenis bunga yang melambangkan beragam suasana, rasa, atau nuansa.

Pangageng Karawitan senior di Pura Mangkunegaran, Hartono, saat berbincang dengan solopos.com, Senin (30/7/2018), hafal setiap detail gending tersebut. Sejak tahun 60-an ia memainkannya bersama pengrawit lain di berbagai acara Mangkunegaran baik dalam maupun luar negeri. Hartono kemudian mengingat-ingat kembali soal cerita rekaman Ketawang Puspawarna yang dikirim ke luar angkasa. Cerita itu cukup sering dibicarakan di kalangan pangageng karawitan.

“Gending ini memang fenomenal, bahkan pernah dibawa ke angkasa luar oleh NASA. Kalau biasanya dimainkan ketika Raja datang. Di luar negeri pun begitu. Di setiap siaran Mangkunegaran radio RRI, Ketawang Puspawarna selalu diputar sebagai pembukaan,” ceritanya dengan bahasa Jawa.

Latar belakang Ketawang Puspawarna sebagai gending Jawa pertama yang dibawa ke angkasa luar memang menjadi pertimbangan utama dipilih sebagai pembuka IGF. Direktur IGF yang menjadi komposer gending pembuka, Rahayu Supanggah telah menyiapkan sajian istimewa. Saat berbincang dengan solopos.com di kediamannya beberapa waktu lalu ia mengatakan setelah mendengarkan gending bersejarah tersebut penonton langsung disambut dengan sajian Kebo Giro dengan Lintang-Lintang.

Gending Kebo Giro yang ramai dan sedikit heroik diharapkan mampu memompa semangat para penonton yang datang. Yang biasanya memang digunakan untuk menyambut para tamu saat acara pernikahan. Setelah itu dilanjutkan sajian Lintang-Lintang yang bermakna cahaya keindahan. “Ini kan lintang rembulan, mengenai cahaya yang indah. Gamelan ini seperti mewakili keindahan cahaya,” kata dia.

Komposisi karya pembuka, kata Panggah, juga bakal diiringi alat musik lain seperti saxophone dan beberapa gamelan luar Jawa. Kolaborasi apik tersebut melibatkan dua komponis yang dianggap telah mencapai puncak penjelajahan artistik Gamelan. Mereka adalah Wayan Yudane (Bali), dan Taufik Adam (Jakarta).