Refleksi Kehidupan dalam Garis Sketsa Karya Romo Mudji

Pengunjung melihat lukisan sketsa karya Mudji Sutrisno di Bentara Balai Soedjatmoko, Solo, Minggu (29/7/2018 ). Pameran yang bertajuk Kumandang Ing Sepi tersebut digelar Jumat (27/7/2018) hingga Jumat (3/8 - 2018). (Solopos/M. Ferri Setiawan)
02 Agustus 2018 15:34 WIB Ika Yuniati Entertainment Share :

Solopos.com, SOLO - Sketsa masjid besar berdiri di antara stupa dan sebuah bangunan tinggi dengan salip di atasnya. Sang perupa, yang juga rohaniawan Mudji Sutrisno, menggambarnya dengan akrilik. Warna di masing-masing bangunan dibuat senada dan sedikit membaur. Ia memberinya judul Mohon Toleransi Saat Bulan Puasa.

Tema toleransi dalam sketsa berwarna tersebut hanyalah satu dari 70-an karya Mudji yang dipajang dalam pameran tunggalnya di Bentara Budaya Balai Soedjatmoko, Solo, Minggu (29/7/2018). Mengusung Kumandang ing Sepi, budayawan yang akrab disapa Romo Mudji menyuguhkan deretan sketsa yang sarat makna. Setiap tarikan garisnya menyimpan kedalaman rasa.

“Saya menggambarnya dalam satu kali goresan. Tapi menunggu mood saya dulu. Makanya beberapa gambar enggak mungkin bisa saya buat ulang dengan bentuk serupa. Yang paling inti adalah menariklah setiap garis dengan rasa,” kata Romo Mudji saat berbincang dengan solopos.com di sela-sela pameran, Minggu.

Meski mengusung Kumandang ing Sepi, puluhan sketsa tersebut tidaklah dibuat melalui kehidupan yang sunyi. Hampir semuanya justru lahir dari perjalanannya sebagai rohaniawan maupun budayawan. Ia membuat sketsa penyaliban Yesus sepulang ziarah dari India. Menggambar gereja-gereja di luar negeri dan dalam negeri, keindahan pantai menjelang petang saat ke Sumba, candi – candi masyur di Indonesia, juga beberapa candi yang dibuat saat di Myanmar.

“Saya suka candi karena itu peninggalan hasil karya atau rupa yang fungsinya sekaligus untuk ibadah, berdoa, bersyukur, kalau ke sana suasana harus hening. Ini juga peninggalan peradaban,” terangnya.

Mayoritas sketsa dibuat dengan drawing pen hitam. Namun saat membuat gambar buah-buahan yang disebut sebagai simbol nutrisi dan keseimbangan tubuh, Romo Mudji, menggunakan beberapa warna. “Kenapa saya pilih warna saya mau mengatakan ini kan buah bikin orang sehat. Seniman atau tulisan atau lukisan harus memayu hayuning bawana, merawat hidup dan memuliakan kehidupan,” kata Romo Mudji sembari menegaskan objek buah hanyalah makna simbolis.

Tiga Proses

Romo Mudji menggarap puluhan sketsanya melalui tiga proses berbeda. Pertama, langsung di depan objek atau on the spot yang rata-rata diaplikasikan saat menggambar candi. Kedua, adalah hasil perenungan, terutama beberapa hal yang berkaitan dengan perjalanan ziarahnya ketika menapaki pura, stupa, katedral, candi, dan rumah doa lain. Ketiga, refleksi kehidupan. Melalui proses terakhir ini ia mengajak kita semua membaca Indonesia dengan simbol perahu dan kapal.

Romo Mudji mengatakan saat berencana membuat pameran tunggal di Bentara Budaya Solo beberapa tahun lalu hanya menyiapkan 30 sketsa. Namun setelah membaca tulisan kurator Bentara Budaya bahwa ini merupakan pameran pulang kampung, ia serasa mendapat energi baru untuk menambah jumlah karyanya. Dia pun berhasil mengumpulkan lebih dari 70 lembar yang dipamerkan sepekan pada Jumat (27/7/2018) – Jumat (3/8/2018).

Kurator Bentara Budaya Efix Mulyadi dalam pembukaan buku katalog menuliskan goresannya yang tebal dan tipis, kuat atau lembut, maupun padat oleh sapuan bidang-bidang umumnya memberi kesan hening, sunyi, samar, dan tak terjangkau. Pameran pulang kampung keduanya setelah 2013 ini diharapkan berdampak pada pertumbuhan seni rupa Solo, yang selama ini mempunyai langgam dan dinamikanya sendiri.

Tokopedia