73 Kelompok Gamelan di Jantung Kota Solo Sambut IGF 2018

Warga menyaksikan pementasan kelompok gamelan dalam acara soft opening International Gamelan Festival (IGF) 2018 di city walk Jl. Slamet Riyadi, Solo, Kamis (9/8 - 2018). (Solopos/M. Ferri Setiawan)
09 Agustus 2018 21:58 WIB Ika Yuniati Entertainment Share :

Solopos.com, SOLO - Bunyi geteran gamelan yang ditabuh murid-murid Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah 1 Ketelan Solo menjadi pertanda dimulainya soft opening International Gamelan Festival (IGF), di area city walk Plaza Sriwedari, Kamis (9/8/2018) sore. Tak berselang lama, suara yang sama merambat ke kelompok gamelan kedua yaitu SMP Negeri 1 Solo, dan grup lain di sebelah mereka. Berurutan menyambung ke grup berikutnya hingga nomor 73 yang berada di area city walk Balai Kota Solo.

Semarak bunyi gamelan yang bertalu-talu menyatu dengan keriuhan Jl. Slamet Riyadi yang sore itu dipadati lalu lalang kendaraan. Penonton berdesakan mengerumuni para pengrawit yang bermain gamelan di panggung sederhana. Tak lupa mereka mengabadikan momen langka pentas massal di ruang terbuka tersebut dengan memotret atau merekam video. Beberapa terbawa suasana dengan ikut menyanyi bersama.

Tokopedia

Seperti yang ditetapkan panitia sebelumnya, kelompok karawitan yang memeriahkan soft opening sore itu membawakan empat repertoar wajib, yaitu geteran, gangsaran roronjolo, lancaran kutha solo, dan terakhir sampak Ji – Mo.  Kelompok yang diisi anak-anak seperti perwakilan sekolah dan sanggar terlihat bersemangat. Tensi mereka seolah meninggi setiap kali diberi hadiah tepuk tangan oleh para penonton. Gelora yang sama juga dirasakan karawitan dewasa yang permainannya lebih matang.

Salah satunya kelompok karawitan dari KGB Paroki ST Paulus Kleco. Grup yang biasanya mengiringi ibadah para jemaat gereja pada pekan kelima ini membawa 12 pengrawit dan 23 pengisi vokal. Semburat bahagia terlihat dari wajah mereka meskipun tampil dengan membawa kertas contekan isi tembang.

“Ya kami memang semangat sekali mendukung acara ini. Gamelan seringkali dipentaskan mengiringi ibadah jemaah. Beberapa jemaah mengatakan lebih damai dengan musik gamelan. Kami ingin menyebarkan kedamaian itu dengan pentas di soft opening ini,” kata koordinator grup gamelan KGB Paroki ST Paulus Kleco Aries Susanto.

Tak hanya empat repertoar wajib. Para kelompok yang memeriahkan “pesta” gamelan menuju grand opening IGF tersebut juga membawakan beberapa karya masing-masing. Salah satu penonton Prima Widiasari, Kamis, mengapresiasi pergelaran IGF. Sebagai penikmat seni tradisional ia mengaku bahagia bisa menyaksikan festival bergengsi tersebut. “Banyak pilihan kelompok. Semuanya bagus-bagus. Teman saya yang di Jepang saja pengin ikut lihat. Apalagi saya yang ada di Solo, harus banget nonton,” kata dia.

Saat gala dinner Klenengan Apik Tenan yang diisi sekitar 20 pejabat eselon satu dan eselon dua Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Kemendikbud) ikut pentas. Mereka menyuguhkan empat repertoar tembang seperti Gula Klopo, Tahu Tempe, Ambangun, dan Dolan Menyang Solo.

Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Didik Suhardi, mengatakan grup yang baru didirikan ini bertujuan untuk mengidupkan semangat melestarikan budaya di kalangan Kemendibud. Sebelum IGF mereka pentas di peringatan Hari Pendidikan Nasional.

“Ini dalam rangka nguri-uri kesenian tradisional. Kementerian (Kemendikbud) mendirikan paguyuban gamelan. Klenengan Apik Tenan, artinya kalau kita sungguh-sungguh ya akhirnya bisa. Bukan hanya Jawa tapi juga latihan Sunda, Anglung,” kata Didik.