Spektakuler, IGF 2018 di Solo Hadirkan Para Maestro

Para maestro tari Kota Solo tampil dengan diiringi kelompok Gamelan Orkestra Nusantara dengan komposer Rahayu Supanggah saat grand opening International Gamelan Festival di Benteng Vastenburg, Solo, Kamis (9/8 - 2018) malamm. (Solopos/M.Ferri Setiawan)
10 Agustus 2018 20:42 WIB Ika Yuniati Entertainment Share :

Solopos.com, SOLO - Tabuhan gending Ketawang Puspawarna karya K.G.P.A.A. Mangkunagara IV yang dibawakan Orkestra Gamelan Nusantara mengawali grand opening International Gamelan Festival (IGF) di Benteng Vastenburg, Solo, Kamis (9/8/2018) malam. Suasana mendadak magis. Lantunan tembang Jawa yang telah menembus batas luar angkasa bersama Voyager I National Aeronautics and Space Administration (NASA) tersebut seolah menjadi titik balik yang membawa penonton membaca kembali perjalanan gamelan Jawa.

Pembukaan epik di bawah arahan komposer Rahayu Supanggah malam itu disempurnakan dengan lengkingan suara tinggi para pesinden. Serta tarian lembut sejumlah maestro tari Solo seperti Rusini dan Wahyu Santosa Prabowo. Seusai pentas, pembawa acara membacakan kilas balik Ketawang Puspawarna yang cukup fenomenal di kalangan pencinta gamelan. Riuh tepuk tangan terdengar menggema begitu repertoar pembuka selesai dimainkan.

”Musiknya [komposisi Ketawang Puspawarna karya Panggah] mengambil kesan mengudara lebih tinggi. Tentang Puspawarna yang membumbung tinggi, yang mengangkasa,” kata komposer Rahayu Supanggah atau akrab disapa Panggah saat diwawancara sebelumnya, Rabu (8/8/2018) sore.

Selesai dengan karya fenomenal tersebut, pentas dilanjutkan dengan repertoar Kebo Giro dan Lintang Lintang. Disusul karya-karya terbaik dua maestro pembuka lainnya yaitu I Wayan Gde Yudane (Bali) dan Taufik Adam (Jakarta). Wayang Gde mempersembahkan komposisi gamelan yang lekat dengan nuansa Bali. Sementara Taufik lebih berwarna dengan mengawinkan beberapa instrument Nusantara. Musikus berdarah Minang ini mempertemukan alat musik gamelan yang lembut dengan energi tarian dan nyanyian Bajawa, Flores. Tiga seniman lintas disiplin seni Purbo Asmoro, Bulantrisna Djelantik, dan Landung Simatupang turut mengisi acara ppembukaan sebagai pembaca profil singkat para maestro.

Seperti tema utama yang diusung IGF yaitu Homecoming, Taufik, mengatakan komposisi musiknya terinspirasi dari makna pulang. Diambil dari salah satu nyanyian di Flores yang biasanya dibawakan seorang ibu untuk menenangkan anaknya. Tembang nina bobok tersebut juga berarti mengajak anak kembali pulang ke dekapan ibunya. “Makna pulang itu kan luas. Saya mengusung makna pulang dalam budaya Flores dalam pentas ini,” kata dia.

Panggung IGF hari pertama juga dimeriahkan penampilan kelompok karawitan dari Southbank Gamelan Players (Inggris) yang cenderung klasik. Pembukaan belum usai, penonton juga diajak menyaksikan gamelan eksploratif karya Djaduk Ferianto & Kuaetnika (Jogja).

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy dalam sambutannya mengatakan festival ini untuk merayakan keberagaman budaya. Sekaligus sarana silaturahmi para pegiat seni gamelan yang selama sepekan kedepan berkumpul untuk meramaikan IGF di Solo. Festival ini membuka ruang interaksi dan dialog budaya yang sangat kuat.

”Gamelan saat ini juga sedang diajukan masuk nominasi warisan tak benda milik Indonesia ke UNESCO [United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization] Maka Indonesia butuh dukungan pegiat gamelan untuk menyukseskan usulan itu. Selamat merayakan keberagaman budaya,” kata dia.

Setelah pembukaan IGF masih berlanjut hingga sepekan ke depan. Berbagai acara bakal digelar di berbagai titik strategis Kota Solo. Mulai konser dengan 19 kelompok gamelan mancanegara dan 47 gamelan Nusantara, perilisan buku, seminar, pemutaran film, dan pameran.