Ini Makna dan Proses di Balik Tari Balabala Karya Eko Supriyanto

Lima penari perempuan asal Jailolo, Maluku Utara, bersama Eko Supriyanto (kanan) seusai pementaskan tari Balabala di Teater Besar Gendon Humardani, Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Senin (20/8/2018). (Istimewa-Dokumen Eko Croser) Istimewa - Dokumen Eko Croser
24 Agustus 2018 18:32 WIB Ika Yuniati Entertainment Share :

Solopos.com, SOLO - Setelah tampil di beberapa negara Asia, Australia, dan Eropa sejak 2016 Tari Balabala garapan koreografer kenamaan Eko Supriyanto akhirnya dibawa ke Solo. Bertempat di Teater Besar Gendon Humardani Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Senin (20/8/2018), bagian kedua dari trilogy Cry Jailolo tersebut dipersembahkan Eko untuk Dies Natalis Ke-54 ISI Solo.

“Saya pengin mempersembahkan karya ini untuk ISI Solo. Ini penting bagi saya karena saya lahir dari sini, dididik guru-guru saya di sini [Kampus ISI Solo],” kata koreografer yang menuai pujian dari publik karena karya spektakulernya di pembukaan Asian Games 2018 ini.  Balabala yang dihidupkan lima remaja putri asal Jailolo, Maluku Utara, ini seperti mendobrak budaya patriarki di tempat kelahiran mereka. Narasi kritis tentang kekuatan perempuan daerah di atas bayang-bayang hierarki budaya ini disampaikan melalui gerakan tari yang menyiratkan kekuatan. Kadang pelan dan riang, namun tak jarang bertempo cepat penuh tenaga.

Eko yang juga akrab disapa Eko Pece ini mendekonstruksi tiga tarian khas Jailolo yaitu Baronggeng, Cakalele, dan Soya-Soya. Baronggeng adalah tarian yang lazim dibawakan perempuan. Sementara Cakalele dan Soya Soya yang notabene berisi ajakan perang biasanya hanya boleh ditampilkan oleh laki-laki. Gerakannya tegas.

Daya magis kekuatan kaum hawa dalam karya ini disempurnakan dengan vokal beberapa suku dan musik tradisi Halmahera Barat sebagai musik pengiring. Di pertengahan pentas, obrolan para penari dengan bahasa asli mereka juga menjadi latar suara yang menarik untuk menghidupkan Balabala. Struktur koreografinya seperti diulang-ulang, berawal dari kelompok, kemudian mereka tampil sendiri sesuai karakter masing-masing.

Inspirasi Sang Ibu

Balabala yang diambil Eko dari bahasa Suku Sahu, Halmahera Barat, berarti kebangkitan perempuan ini banyak dipengaruhi pengalaman personalnya dengan sang ibu. Memori kolektifnya bersama mendiang ibu diwujudkan dalam beberapa gerak seperti tangan mengepal dan gemetar. “Secara global karya ini enggak akan mengarah ke sana [gender], tapi pengalaman personal individu. Tentang pengalaman saya dengan ibu saya. Saya selalu bilang kepada para penari [Balabala] menarilah untuk mamak mamak kalian,” kata Eko.

Project Balabala yang juga di dukung Pemda Halmahera Barat berawal dari pertemuannya dengan ibu-ibu Jailolo yang lebih suka menjadi janda karena hierarki laki-laki dan perempuan sangat kentara. Lalu tanpa sengaja Eko menemukan foto perempuan tua pada ‘60-an menari Cakalele. Ketika itu hatinya tergugah untuk membuat karya baru.

Awalnya Eko mengajak ibu-ibu untuk menjadi penarinya namun ditolak para suami mereka. Hingga akhirnya dialihkan kepada para perempuan muda. Atas izin ketua adat, Eko, pun mendekonstruksi Cakalele dan Soya Soya untuk para penari mudanya.

Mereka diajari tari aslinya dulu sebelum latihan gerakan Balabala. Lima bulan berproses sejak 2015, tari ini dipentaskan premier 2016 di Teater Salihara, Jakarta. Sekarang Balabala telah memasuki generasi penari kedua yang semuanya remaja asli Jailolo. Begitu juga dengan Cry Jailolo yang juga telah melalui regenerasi penari sejak kali pertama dibuat.

Karya ini juga didukung Nyak Ina Raesuki sebagai komposer musik, Oscar Lawalata dan Erika Dian piñata kostum, dan masih banyak lagi. Salah satu penonton, Didik, memuji para penari yang berhasil menghidupkan realitas perempuan Jailolo lewat gerakan maraton mereka selama satu jam pentas. Berangkat dari ketulusan para penari, menurut penilaiannya Balabala menjadi karya utuh yang berisi satu cerita kehidupan. Menceritakan tentang perjuangan, keprihatinan, dan semangat yang spiritnya telah memasuki tari sebagai ruang hayatan.

Tokopedia