Harapan Kebangkitan Lokal Hero lewat Wiro Sableng

Para pemain film Wiro Sableng (Solopos/Ika Yuniati)
03 September 2018 09:00 WIB Ika Yuniati Entertainment Share :

Solopos.com, SOLO – Suasana kerajaan, pasar tradisional, dan keindahan alam Nusantara menjadi latar utama film laga Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 (2018). Garap ulang genre fantasi yang diangkat dari buku serial mendiang Bastian Tito tersebut mengajak penonton kembali ke masa lalu. Berkutat dengan permasalahan yang terpusat di kerajaan, melihat heroiknya para lokal hero melawan kejahatan dengan mengandalkan berbagai gerakan silat.

Sedikitnya ada tiga perguruan silat di Jawa yang turut menyumbangkan jurus-jurus terbaik mereka dalam film besutan Angga Dwimas Sasongko ini. Gerakan mereka dikomandoi langsung aktor sekaligus mantan atlet silat Yayan Ruhian yang juga ikut main dalam film tersebut. Dipadukan dengan gerak fantasi khas Nusantara karya Adrian Sinaga. Didukung 300-an jenis kostum dan 150 senjata berbasis kekayaan budaya Indonesia.

Film yang mengangkat pendekar senjata kapak maut naga geni 212 bernama Wiro Sableng ini semakin hidup dengan efek visual Computer-generated imagery (CGI) yang melibatkan 93 visual effect (VFX) asli Indonesia. Produser Sheila Timothy saat jumpa pers di X.O Café and Bistro The Park Mall Solo Baru, Minggu (2/9/2018), mengatakan yang lebih membanggakan lagi garapan Rumah Produksi Lifelike Pictures ini menjadi film pertama hasil co-production perusahaan pencetak box office asal Amerika 20th Century Fox.

“Yang paling membanggakan 20th Century Fox justru mengajak kerja sama karena melihat kekayaan budaya dan silat dalam lokal hero Indonesia,” kata dia.

Dengan begitu tak berlebihan jika Sheila mengklaim film ini bisa menjadi tonggak awal perkembangan film yang mengusung lokal hero. Harapannya Wiro Sableng yang bakal dibuat sekuel ini mendapat hati untuk para pencinta film super hero. Tak hanya di Indonesia, namun juga negara lain seperti Malaysia, Singapura, dan beberapa negara distribusi 20th Century Fox. “Saya pikir iya [Wiro Sableng harapan kebangkitan lokal hero] karena setelah kabar film ini dibuat, ada beberapa sineas yang juga bakal membuat film serupa,” terangnya.

Pemeran Wiro Sableng Vino G Bastian yang juga turut dalam jumpa pers mengamini hal tersebut. Apalagi selama ini banyak sosok super hero lokal yang menurutnya melegenda dan layak difilmkan. “Kemarin ketika sehabis nonton bareng di Jakarta ada anak kecil yang bilang idolanya berubah jadi Wiro Sableng setelah nonton film ini. Bukan lagi Superman atau Iron Man. Di situ rasanya senang banget. Ya semoga ini merupakan awal yang baik,” ceritanya saat meet and greet.

Pesilat yang memerankan sosok Bujang Gila Tapak Sakti, Fariz Alfarizi, menambahkan film ini menjadi momen bagi kita semua kembali mengenal silat yang merupakan beladiri asli Indonesia. Kalau para atlet memperjuangkannya lewat berbagai kompetisi, para seniman mengenalkan kembali melalui industri film.

Proses Panjang
Meski bekerja sama dengan perusahaan film pencetak box office, penggarapan Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 butuh waktu panjang. Menghabiskan waktu hingga 1,5 tahun sejak Februari dengan melibatkan 977 kru dan pemain. Sherina Munaf yang memerankan sosok Anggini mengatakan yang paling sulit adalah akting sambil melakukan gerakan silat. Ia dan Vino yang tak memiliki basic ilmu beladiri butuh waktu hingga enam bulan untuk menguasai berbagai gerak silat. “Kami belajar silat. Itu yang cukup sulit,” kata dia.

Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 mulai diputar sejak 30 Agustus lalu. Judul pertama yang dirangkum dari empat serial Wiro Sableng karya mendiang Bastian Tito ini diawali dengan kisah masa kecil Wiro dan awal mula pertemuannya dengan sang guru. Melibatkan sejumlah aktor ternama Indonesia seperti Dwi Sasono, Marcella Zalianty, Happy Salma, dan Lukman Sardi. Penulisan naskah ditangani tiga orang sekaligus yaitu Sheila Timothy, Tumpal Tampubolon, dan Seno Gumira Ajidarma.

Selesai gala premier di Jakarta, para kru dan artis melakukan nonton bareng (nobar) dan meet and greet ke sejumlah kota. Di Solo mereka disambut hangat para penggemar di The Park Mall Solobaru, dan Indomaret Plus Slamet Riyadi, Minggu siang.