Tak Latah, Film Tengkorak Tawarkan Fiksi Ilmiah

Kru dan para pemain film Tengkorak seusai mengisi acara di Radio Solopos FM, Sabtu (8/9 - 2018). (Solopos/Ika Yuniati)
12 September 2018 20:33 WIB Ika Yuniati Entertainment Share :

Solopos.com, SOLO - Genre horor dan drama menempati urutan teratas film terlaris di bioskop Indonesia sejak beberapa tahun terakhir. Tak ayal sejumlah Production House (PH) berlomba-lomba menggarap tema serupa demi mengikuti jejak kesuksesan para senior mereka. Kendati demikian, tak sedikit sineas Tanah Air yang mencoba peruntungan dengan narasi yang berbeda. Salah satunya sutradara Yusron Fuadi asal Jogja.

Dosen di Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menggarap film berjudul Tengkorak yang mengusung genre fiksi ilmiah. Saat berbincang dengan Espos seusai melakukan siaran di Radio Solopos FM, Sabtu (8/9/2018), ia berharap karya layar lebar pertama sineas film UGM memberikan warna baru bagi dunia perfilman Indonesia yang kian monoton.

Dari segi minat penonton, menurutnya selama ini pencinta film Tanah Air sudah banyak yang tertarik dengan genre science fiction. Buktinya sekuel Jurassic World: Fallen Kingdom dan beberapa judul garapan PH Amerika diserbu penonton. “Kalau dari sisi penonton peminatnya sudah ada. Tinggal kita [sineas] yang berani apa enggak membuat film ini,” kata Yusron.

Lebih lanjut, Yusron, menambahkan kelebihan fiksi ilmiah dalam film Tengkorak ini adalah sangat dekat dengan masyarakat Indonesia. Mereka memasukkan budaya lokal sebagai latar utama. Begitu juga dengan setting tempat yang diambil di beberapa daerah di Yogyakarta.

Militansi Kru

Yusron mengatakan penggarapan film ini butuh waktu yang cukup lama. Ia mulai berproses sejak empat tahun lalu. Dibantu para sineas muda, serta beberapa seniman Jogja dan Solo, akhirnya film tersebut selesai tahun ini.

Lebih lanjut Yusron menyebut film ini merupakan buah dari militansi dan kerja keras para kru dan pemain. Betapa tidak, hampir semua orang yang terlibat dalam karya ini minim bayaran. Mereka mengaku hanya mengeluarkan dana sekitar Rp500 juta untuk biaya produksi dan konsumsi. Biaya yang tergolong sedikit untuk penggarapan film layar lebar.

“Makanya saya sangat berharap film ini ditonton banyak orang agar minimal saya bisa nyangoni para kru dan pemain yang sudah berjuang untuk film ini,” kelakarnya. Saking minimnya dana, mereka banyak memanfaatkan aplikasi gratisan untuk proses editing, khususnya saat menggarap visual efek. Beberapa kru yang tak punya basic sinematografi bahkan belajar membuat visual efek secara autodidak melalui Youtube.

“Minimal film ini bisa menjadi pemicu untuk semua anak bangsa agar tetap berkarya meskipun mereka terbentur dana. Asal punya tekad dan keyakinan, ya pasti bisa,” kata dia. Seniman Solo yang terlibat sebagai pemain, Guh S. Mana, Sabtu, mengaku salut akan kegigihan semua kru. Itulah sebabnya ia langsung mengiyakan tawaran sutradara saat diajak menggarap film ini. Saking antusiasnya, ia bahkan pernah meninggalkan ujian doktoralnya di ISI Solo demi merampungkan proses shooting.

Selain Guh, Tengkorak juga didukung aktris asal Jogja, Eka Nusa Pertiwi, para dosen, dekan, serta rektor UGM. Cerita film ini dimulai dari temuan tengkorak raksasa yang menggeparkan seluruh dunia. Konflik mulai muncul ketika sejumlah orang berlomba-lomba mencari asal usul tengkorak yang ditemukan di bukit sepanjang dua kilometer.