Penuh Makna, Begini Cara Seniman Menyambut Bulan Sura di Solo

Penari dari Suku Dayak Bahau, Kalimantan Timur, mementaskan Tari Hudoq dalam acara Srawung Seni Sakral Internasional 2018 di Museum Radya Pustaka, Solo, Rabu (12/9 - 2018) malam. (Solopos/M. Ferri Setiawan)
14 September 2018 15:25 WIB Ika Yuniati Entertainment Share :

Solopos.com, SOLO - Perayaan menyambut tahun baru Hijriah yang biasa disebut masyarakat Jawa dengan Bulan Sura kembali digelar para seniman dan budayawan Solo dalam serangkaian acara bertajuk Srawung Seni Sakral. Bertempat di halaman Museum Radya Pustaka, mantra dan doa-doa baik dipanjatkan, Rabu (12/9/2018) malam.

Nyanyian harapan baru untuk kemanusiaan dilantunkan Djarot B.D saat membuka acara. Suaranya pelan dan penuh makna. Diiringi gerak pelan fragmen Tari Srimpi oleh empat perempuan berbaju lurik dan jarit. Sesuai dengan maknanya, repertoar tari Jawa klasik tradisi Keraton Kesultanan Mataram itu membawa spirit dan harapan baru tentang kehidupan. Lampu temaram dan sepoi angin malam menambah daya magis ritual doa yang dikomandoi penari senior tersebut. “Kami menyampaikan doa-doa tentang kebaikan, kebahagiaan, keselamatan, lewat ritual pentas ini,” kata Djarot.

Kesakralan ritual dan doa semakin terasa tatkala dalang Jlitheng Suparman menyambung pentas Djarot. Bersama Gangsa Usada, dalang Wayang Kampung Sebelah itu menawarkan sajian layaknya pentas meditasi. Nyanyiannya yang lebih banyak diisi rapalan doa diiringi pukulan alat musik tradisional seperti gender, dan saron.

Tak hanya sajian ritual yang lekat dengan Budaya Jawa. Ada 11 kelompok penampil dalam dan luar negeri yang juga turut menyumbangkan karya mereka. Mereka antara lain Yolanda Corona Caraveo dan Dewa Ayu Eka Putri (Bali dan Meksiko) yang menularkan semangat doa untuk Bulan Sura lewat From Seed to Life: A Celebration for Corn and Rice. Aroma dupa menyeruak di antara gerakan lembut dua seniman beda negara tersebut. “Dengan keterlibatan para seniman dunia ini kami berharap getaran ritual dan doa-doa yang kami panjatkan dalam acara ini juga turut mendunia,” kata ketua panitia Teguh Prihadi, Rabu.

Penuh Energi

Di pertengahan acara, 30 orang asli Suku Dayak yang tergabung dalam Forum Komunikasi Paguyuban Balikpapan, Kalimantan Timur, menampilkan sajian berbeda. Mereka menyuguhkan ritual Adat Dayak Bahau yang semarak dan penuh energi.

Ada tiga repertoar khusus yang dibawakan para seniman Dayak di bawah komando Leo Sukoco ini. Pertama tarian berisi permohonan keselamatan yang biasanya dipanjatkan sebelum memulai kegiatan. Dilanjutkan tarian untuk mengiringi upacara-upacara adat seperti kematian, doa bagi orang sakit, dan doa leluhur. Tarian ini, kata Leo, juga berfungsi sebagai pemersatu masyarakat setempat. Biasanya dipentaskan bersama puluhan warga dari daerah lain untuk menjaga silaturahmi.

Sajian terakhir berjudul Tari Hudoq. Biasanya dipentaskan sebagai penghormatan untuk dewa-dewa Suku Dayak yang dipercaya sedang turun ke bumi. Pentasnya lebih semarak dan meriah dengan melibatkan banyak penari. Mereka pentas penuh energi dengan kostum khas berukuran besar yang dibuat dari potongan daun pisang. Diiringi petikan Gitar Sampe dan nyanyian khas Dayak.

“Dulu Papua menganut kepercayaan animisme, maka banyak ritual yang digunakan sebagai ibadah. Kalau sekarang ini, beberapa hanya dilakukan sebagai upaya pelestarian,” kata Leo di sela-sela acara.