25 Tahun Pecas Ndahe, Ribuan Ndaser Gembira

Pecas Ndahe saat pentas Ultah ke 25. (Solopos/M.Ferri Setiawan)
15 September 2018 21:00 WIB Ika Yuniati Entertainment Share :

Solopos.com, SOLO -- Ribuan ndaser (sebutan penggemar grup musik humor Pecas Ndahe) riuh tepuk tangan begitu melihat vokalis lama Pecas Ndahe yang sejak tiga tahun lalu vakum lantaran sakit, Wisik, naik panggung, Jumat (14/9/2018) malam.

Meski datang dengan kursi roda, salah satu anggota tertua ini tak lantas mendapat perlakuan istimewa. Dalam pentas ulang tahun Pecas Ndahe ke-25 di Pendapa Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) tersebut, Wisik,  justru menjadi bulan-bulanan personel lain.

Contohnya ketika Wisik menyanyi lagu Sahabat Jadi Cinta yang dipopulerkan Zigas. Jokker Pecas Ndahe, Doel, tiba-tiba menimpali dengan lirik Bojo Galak. Begitu juga ketika membawakan lagu Aerosmith berjudul I Don't Wanna Miss a Thing. Di tengah-tengah menyanyi, musiknya kembali diganti menjadi dangdut koplo Bojo Galak.

Belum reda kekesalan Wisik,  Doel, kembali berulah. Ia meledek partner lamanya itu karena beberapa kali menoleh ke belakang. “Ora ya, kursimu iki wenehana spion ben nek nyeluk-nyeluk ki ora perlu nolah noleh  [kursi rodamu ini dikasih kaca spion biar enggak perlu menoleh-noleh kalau pengin memanggil],” ledeknya disusul tawa lepas ribuan penonton yang memadati Pendapa.

Ungkapan kedekatan dengan saling melempar ledekan ini seolah sudah menjadi ciri khas Pecas Ndahe setiap pentas. Para ndaser tentu masih ingat, dulu mendiang Pakdhe Emil yang merupakan anggota tertua juga sering menjadi bulan-bulanan dua joker lain yaitu Doel dan Burhan.

Meskipun mendiang Emil dan Burhan telah digantikan dua personel baru, Max Baihaqi, dan Kocrit, gaya guyonan lama tersebut seolah enggan ditinggalkan. Termasuk beberapa umpatan seperti ndhasmu atau ben mati dhewe yang menjadi cirikhas Doel.

Doel saat berbincang dengan Solopos.com di Pendapa TBJT seusai pentas mengatakan semua di luar skenario. Seperti biasa, ia dan para joker lain mengulang beberapa guyonan tersebut tanpa sengaja. Apalagi kalau sudah di panggung, penampilannya seolah tak terkendali. Respons penonton sangat mempengaruhi performa mereka.

Saat pentas dengan tema Nostalgia SMA Jumat malam lalu momen sentimen yang paling Doel rasakan adalah saat memasuki segmen nyanyi lagu Tombo Mati. Doel dan Kocrit yang menjadi joker utama seolah mendapat tambahan energi ketika melihat ribuan penonton terpingkal-pingkal.

Alhasil, durasi pentas molor hingga beberapa menit. “Interaksi penonton itu membuat kita jadi sangat bersemangat dan sebaliknya. Kalau udah high, ya seolah-olah semua yang kita omong di panggung jadi lucu,” kata Doel.

Meski diakui durasinya terlalu panjang, para Ndaser yang datang dari berbagai kalangan dan usia malam itu tak lantas buru-buru beranjak pergi. Mayoritas menunggui pentas yang dimulai pukul 19.30 WIB hingga pukul 22.45 WIB tersebut. Mereka seolah tak ingin melewatkan penampilan spesial Pecas Ndahe yang hanya digelar setiap ulang tahun.

“Saya termasuk Ndaser yang nonton mereka sejak pertama manggung, 25 tahun silam. Kalau Pecas Ndahe pentas, saya selalu menyempatkan diri untuk nonton. Apalagi sekarang, mereka jarang menggelar pentas besar seperti ini. Apa ya, guyonannya itu Solo banget. Yawis, santai gitu, enggak jaim, mewakili kondisi masyarakat,” puji Bambang Gage, Ndaser militan yang datang dengan kaus bertema SMA. 

Misi Menghibur

Tak ada materi khusus yang disampaikan dalam perayaan seperempat abad malam itu. Doel, Kocrit, dan Max Baihaqi sebagai frontman menyajikan berbagai bentuk komedi. Banyolan ringan soal kebiasaan sehari-hari, perundungan, kritik sosial, hingga musik parodi dilontarkan secara bergantian.  Didukung personel lain yaitu Nurul, Yoik, Pendek, Tomo, Tony, serta dua bintang tamu  Erma, dan Titik. 

Doel sebelumnya mengatakan Pecas Ndahe memang tak punya misi lain kecuali menghibur penonton. “Misi kami ya hanya menghibur, enggak ada lainnya. Ke depan mau ngapain? Begini saja [banyak yang mengapresiasi] bagi kita sudah sangat cukup. Enggak mau yang aneh-aneh,” kata Doel.

Wisik ditemui Solopos.com seusai pentas, Jumat malam, mengatakan seperempat abad bukanlah waktu yang singkat bagi mereka. Berawal dari grup musik kampus bernama Suku Apakah, Pecas Ndahe, melalui berbagai macam pergolakan.

Dalam tulisannya tentang sejarah Pecas Ndahe, krisis tahun 1998 turut mempengaruhi musikalitas mereka. Dominasi musik akustik bergeser menjadi elektrik tanpa meninggalkan unsur alat-alat keroncong seperti cak, cuk dan cello.

Warna musiknya lebih terasa combo band rock dengan area garapan komedian yang lebih luas. Bohemian Rhapsody milik Queen menjadi lagu parodi pertama yang digarap dengan komposisi alat baru.

Dalam perjalanannya mereka pernah berkolaborasi dengan wayang kulit, marching band, ethno ensseble mahasiwa ISI, mini orchestra, paduan suara mahasiwa dan lainnya. Basis penggemar Pecas Ndahe yang umumnya mahasiswa dan anak muda menjadi ladang subur untuk menjajal kreasi kreasi baru setiap pentas ulang tahun yang mulai rutin digelar sejak 1995.

Pada usia ke-10 mulai mengembangkan diri dengan mengelola website serta memproduksi vcd yang didistribusikan sendiri. “Tantangannya sekarang adalah bagaimana para personel survive di tengah perkembangan teknologi. Tapi saya melihat teman-teman juga punya semangat untuk belajar menyesuaikan tema sesuai kebutuhan jaman sekarang,” kata dia.