Pemain Bas Senior Indro Hardjodikoro Cari Bakat-Bakat Muda Solo

Pemain bas senior Indro Hardjodikoro (dua dari kanan) bersama para musikus muda Solo dan Jakarta sebelum mengisi coaching clinic di Wedangan De Jagongan Solo, Minggu (16/9 - 2018). (Solopos/Ika Yuniati)
19 September 2018 21:08 WIB Ika Yuniati Entertainment Share :

Solopos.com, SOLO - Pemain bas senior yang populer era ’90-an saat bergabung dengan grup musik Halmahera, Indro Hardjodikoro, tengah sibuk dengan berbagai proyek musik yang melibatkan anak-anak muda. Salah satunya yang sudah rampung dikerjakan adalah membentuk grup Jazz Muda Indonesia dengan album perdana berjudul Meet Some Friends. Album yang didistribusikan Demajors Independent Music Industry (DIMI) tersebut dirilis bertepatan dengan Java Jazz Festival awal Maret lalu.

Jazz Muda Indonesia diisi drummer muda asal Bali Krishna Kanhaiya Dasa, 13, yang pernah berproses dengan I Wayan Balawan. Sementara bagian piano diisi oleh pemenang Indonesia’s Got Talents yang maju ke Asia’s Got Talents tahun lalu, Yongky Natanael. Merampungkan album yang diisi delapan lagu ini merupakan salah satu misi Indro untuk mengenalkan para musikus muda potensial di Indonesia.

Selesai dengan project tersebut, Indro, yang juga bergabung dengan gitaris jaz Tohpati ini bergerilya ke sejumlah daerah untuk mencari musikus muda berbakat lainnya. Menggandeng salah satu produk rokok, ia pernah menggelar audisi musik jaz di sejumlah daerah pelosok. “Hasilnya, ya enggak nyangka ternyata mereka banyak yang berbakat, padahal dari daerah. Sebenarnya di Indonesia banyak yang seperti Joy Alexander, tapi tidak terekspose. Saya berharap bisa mengenalkan mereka ke publik, dan menumbuhkan kepercayaan diri anak-anak muda ini,” terang dia saat berbincang dengan Solopos.com, di Wedangan De Jagongan Solo, Minggu (16/9/2018).

Solo merupakan kota yang turut menjadi tempat singgahnya. Saat di Solo akhir pekan lalu, Indro, mengajak gitaris muda Yankjay, drummer asal Solo Robbynata, serta pianis Edwin Putro. Mereka saling kolaborasi untuk mengisi coaching clinic di salah stau ruangan Wedangan De Jagongan. Ia berharap bisa menggelar acara rutin di Solo minimal tiga bulan sekali.

Lebih lanjut, Indro, mengatakan potensi musikus muda Indonesia sebenarnya cukup bagus. Beberapa bahkan menguasa teknik-teknik tinggi bermusik yang tak kalah jika disejajarkan dengan negara lain. Sayangnya mereka kurang percaya diri dan tak memiliki wadah untuk menyalurkan kemampuannya. “Saya tetap optimistis Indonesia menjadi barometer seni dunia. Baik seni musik, tari, lukis, dan lainnya,” harapnya.