Asyiknya Menikmati Musik Jaz di Kereta Jaladara Solo

Gitaris, Jubing Kristianto, bersama Ermi Kulit mementaskan lagu Bengawan Solo dengan aransemen jaz di Kereta Jaladara di Jl. Slamet Riyadi, Solo, Minggu (30 - 9). Acara pementasan musik jaz di kereta uap tersebut sebagai rangkaian Solo City Jazz 2018. (Solopos/M.Ferri Setiawan)
01 Oktober 2018 15:04 WIB Ika Yuniati Entertainment Share :

Solopos.com, SOLO - Lagu Love yang dipopulerkan musikus jaz asal Amerika, Nat King Cole, era 60-an samar-samar terdengar di dalam Kereta Uap Jaladara yang melaju dari Stasiun Purwosari menuju Bundaran Gladak, Solo, Minggu (30/9/2018) pagi. Suara yang bersumber dari nyanyian para tokoh jaz Tanah Air, Margie Segers, dan Ermy Kullit itu beradu dengan bising kereta uap. Penampilan mereka semakin sempurna dengan petikan gitar epik sang fingerstyle Indonesia, Jubing Kristianto.

Penampilan para tokoh musik jaz yang menjadi headliner Solo City Jazz (SCJ) 2018 ini sontak menjadi pusat perhatian para penumpang dalam kereta. Beberapa tamu undangan tak lupa merekam momen langka tersebut sembari ikut nyanyi bersama. Selesai dengan lagu-lagu lawas lain; Just The Two Of Us (John Holt – 1982), dan Route 66 (The Rolling Stone -1964), mereka menambahkan tembang santai seperti Naik Kereta Api dan Naik Becak.

Suasana semakin meriah ketika kereta uap yang disebut Sepur Kluthuk Jaladara dalam Bahasa Jawa ini berhenti di Plaza Sriwedari. Margie, Ermy, dan Jubing menyapa masyarakat yang tengah menikmati Car Free Day (CFD). Dari dalam kereta, ketiganya menghibur para para pengguna CFD dengan tiga repertoar.

Nostalgia

Nostalgia lagu-lagu jaz lama bareng Margie dan Ermy yang populer era 70-an hingga 90-an ini dilanjutkan di pertigaan Ngarsopuro. Di sana, ketiganya turun kereta dan menyanyi bareng penonton di panggung sederhana yang telah disiapkan panitia. Mereka mengajak masyarakat yang sedari pagi mengerumuni area pentas untuk nostalgia bersama. Deretan lagu lama seperti Semua Bisa Bilang dan Kasih berhasil menaikkan tensi penonton. Koor bersama terdengar hingga pengujung pentas.

Nanik Kusdariyanti adalah salah satu pengunjung CFD yang mengaku terkejut dengan kehadiran Margie dan Ermy. Sesekali, ia terlihat ikut menyanyi ketika Margie melantunkan tembang andalannya Semua Bisa Bilang. “Margie itu kan populer puluhan tahun lalu pas saya masih muda. Ya rasanya kayak nostalgia aja. Enggak nyangka ketemu langsung penyanyi aslinya,” kata Nanik.

Tak hanya Nanik, Jubing, juga terkesan dengan konsep SCJ 2018 hari kedua. Menyanyi bersama di atas kereta kuna menurutnya pengalaman bermusik yang sangat menyenangkan. Apalagi sepanjang perjalanan ia melihat ribuan pengguna CFD Solo ramah menyapa mereka meski sekadar melambaikan tangan. “Keretanya kan jalannya pelan banget, menembus keramaian orang-orang yang tengah jalan di CFD, rasanya seperti sedang manggung di tengah-tengah pesta gitu. Seumur-umur baru kali ini saya manggung di atas kereta,” kata Jubing.

Selesai menghibur penonton di panggung sederhana Ngarsopura, rombongan tamu undangan dan artis SCJ melanjutkan perjalanan hingga Bundaran Gladak untuk melakukan closing ceremony. Sebelumnya, ketiga musikus ibukota tersebut menghibur ribuan penonton setia SCJ dalam konser panjang di depan Pasar Gede, Sabtu (29/9/2018) malam.

Acara juga dimeriahkan sejumlah grup musik kenamaan Soloraya. Salah satunya kolaborasi Soloensis (Solo) serta seniman Yogyakarta Farid Stevy. Mereka memberikan sentuhan jaz-rock yang sangat energik. Lengkap dengan aksi headbanging dan crowd surfing di tengah penggemar militan Soloensis.