Menyukai Musik dengan Mengoleksi Rilisan Fisik Ternyata Asyik

Pengunjung memilih kaset dalam Festival Kaset Solo di Lokananta, Solo, Minggu (28/10 - 2018). Bazar aneka kaset, compact disc (CD) musik, dan pemutar musik analog tersebut untuk memperingati HUT ke/62 Lokananta. (Solopos/ M.Ferri Setiawan)
29 Oktober 2018 20:50 WIB Ika Yuniati Entertainment Share :

Solopos.com, SOLO - Belasan toko rilisan album fisik dalam bentuk kaset, video compact disc (VCD), maupun vinyl, menggelar lapak dagangannya di halaman Perum Percetakan Negara RI Cabang Surakarta,Lokananta Minggu (28/10/2018) sore. Yoa Pluto asal Kendal salah satunya. Ratusan kaset lawas baik bekas, baru, maupun segelan ditata rapi pada meja jualannya yang berada di dekat pintu masuk Lokananta.

Kaset berjudul Candik Ayu yang dirilis maestro keroncong Waldjinah diletakkan pada bagian depan. Salah satu album era 80-an yang diproduksi PT Wisanda Recording tersebut merupakan koleksinya yang paling tua. Disusul beberapa judul milik Waldjinah maupun penyanyi lain yang juga populer di era 80-an maupun sekarang. Genrenya beragam, bahkan salah satu album andalan band metal Burgerkill yang rilis 2006, turut dijual.

Keragaman genre pada kaset yang ia jual hari itu selaras dengan seleranya dalam memilih musik. Sang pemilik lapak, Yoa Pluto, memang gemar mendengarkan lagu lewat kaset sejak beberapa tahun lalu. Jenisnya beragam, mulai campursari, keroncongan, langgam, musik pop, hingga metal. “Saya memang tidak fanatik pada satu genre. Tapi saya fanatik pada musik yang diputar lewat kaset,” kelakarnya. Menikmati rangkaian musik lewat kaset, menurut Yoa, memberikan eksperimen menarik. Tak akan ditemui jika hanya menyetel lewat media digital. “Orisinalitas karya sang pemusik sampai langsung ke pendengarnya. Apalagi kalau yang vinyl, beda dengan media digital,” kata dia.

Menghargai

Saah satu kolektor rilisan album fisik asal Ampel Boyolali Budi Pitoyo, membenarkan hal itu. Budi yang mulai mengoleksi kaset, CD, dan vinyl sejak 2005 ini sering menikmati lagu yang diputar sembari mengamati desain cover album beberapa grup musik idolanya. Menurut dia, kebiasaan membaca dan mengamati cover album itu menjadi salah satu daya tarik rilisan fisik yang tak akan ditemui pada media digital.

Lebih dari itu, setiap pembuatan album memiliki latar belakang perjalanan yang menurut Budi sangat epik. Salah satunya album grup ekstrem metal, Kekal, berjudul Beyond the Glimpse of Dream. Album yang dirilis Januari 1998 tersebut merupakan titik balik Kekal karena menjadi karya pertama yang diproduksi di luar negeri, yaitu Malaysia. Tak heran, Budi yang merupakan penggemar Kekal sempat berjuang mati matian untuk mendapatkannya.

Budi yang saat ini memiliki ratusan kaset pita, vinyl, dan CD sejumlah grup metal di Indonesia dan luar negeri masih ingin terus mengoleksi rilisan fisik. Ada beberapa grup yang albumnya ditunggu-tunggu. Meski tak lazim lagi, ia, menilai hal itu sebagai salah satu cara menghargai grup idola.

Pameran sekaligus jual beli rilisan fisik dalam rangka ulang tahun berdirinya Lokananta ke-62 hari itu hanya berlangsung hingga sekitar pukul 21.00 WIB. Desain Grafis Lokananta yang juga mengurusi kegiatan, Anggit Wicaksono, Minggu, berharap acara ini bisa membangkitkan kenangan sekaligus meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap rilisan album fisik.

Pada hari perayaan ulang tahunnya, Lokananta, juga melakukan agenda konversi album piringan hitam kedalam kaset pita. Ada dua album yang digarap yaitu milik Eka Djaja Combo dan Bubi Chen. Kegiatan konversi tersebut rutin dilakukan setiap hari ulang tahun Lokananta yang tepatnya jatuh pada, Senin (29/10/2018).

Lebih dari itu, Lokananta, juga terus melakukan inovasi untuk mengenalkan lagu-lagu lawas kepada generasi sekarang. Salah satunya kerjasama pemutaran 20 album lama di sejumlah platform musik streaming seperti Spotify, Deezer, Langit Musik, dan MelOn. Album tersebut di antaranya Entit milik Waldjinah, Langgam Jawa Timur Kasmaran yang dinyanyikan Soekemi, dan langgam Jawa Lontong Balapan dinyanyikan Achmad Djoewariah T.M. “Sampai hari ini baru ada 20-an album. Ya ini juga untuk memancing pendengar biar enggak hanya mendengarkan musik lewat media streaming tapi trus membeli rilisan fisiknya ke Lokananta,” kata dia.