Ironi Negeri dalam Pentas Monolog Yustinus Yantoro

Seniman Yustinus Yantoro (Yan Jangkrik) mementaskan monolog berjudul Aeng karya Putu Wijaya di Rumah Banjarsari, Solo, Rabu (24/10 - 2018) malam. (Solopos/M.Ferri Setiawan)
31 Oktober 2018 20:45 WIB Ika Yuniati Entertainment Share :

Solopos.com, SOLO - Pegiat teater senior Jogja, Yustinus Yantoro, 61, nyentrik dengan kaus dan celana pendek abu-abu saat tampil dalam pentas tunggal di Rumah Banjarsari, Rabu (24/10/2018) malam. Arahan kostum yang dibuat seperti anak muda dengan topi terbalik semakin mengukuhkan misinya menolak tua dalam urusan berkarya. Keinginan untuk terus berkontribusi pada dunia teater tersebut menjadi tagline pentas kelilingnya di kota kedua ini dengan tema Menolak Uzur.

Malam itu, Yan, menyajikan pentas monolog berjudul Aeng karya Putu Wijaya. Aeng yang berarti ganjil atau tidak biasa, dianggap sangat relevan dengan kondisi masyarakat sekarang. Banyak keganjilan atau ketimpangan yang terjadi di negeri ini. Salah satunya soal ketimpangan hukum seperti yang ia sampaikan saat bermonolog. “Hukum seperti karet, diulur-ulur kalau menggarap kasus orang kecil, cepat selesai kalau urusannya dengan orang berduit,” katanya.

Yan terus bermonolog tentang ironi-ironi kehidupan di negeri ini. Terkadang suaranya keras dan lantang, polahnya gesit. Pada salah satu segmen, ia tiduran di lantai dengan kaki naik ke atas meja. Tak berapa lama, terdengar suara berisik yang membuatnya harus berteriak keras sembari gerak cepat agar dialog terdengar ke penonton.

Latihan Lama

Meski hanya dipentaskan kurang dari satu jam, Yan, butuh waktu cukup lama untuk mempersiapkan pentas tur ini. Seingatnya latihan memakan waktu hampir dua bulan. Hal tersulit adalah menghafal dialog. Saking susahnya, ia sampai membawa lembaran naskah ke mana-mana, termasuk saat mau tidur. “Di beberapa adegan tadi saya sempat ngos-ngosan, banyak dialog yang improvisasi karena banyak lupanya. Tapi tetap sesuai dengan alur cerita,” kata dia ketika ditemui seusai pentas.


Konsekuensi lain yang harus terima saat memaksakan diri untuk menggelar pentas keliling adalah minimnya apresiasi penonton. Ia memaklumi ketika penontonnya di Solo lebih sedikit ketimbang pentas pertamanya di Jogja beberapa waktu lalu. Sama halnya dengan kota lain setelah Solo yang kemungkinan juga minim orang karena tak begitu dikenal.

Tapi hal itu tak membuatnya patah arang. Seniman yang pernah berguru dengan para tokoh teater berpengaruh di Jogja seperti Landung Simatupang, Hasmi, dan mendiang Wied M.S. ini tak ingin terjebak pada kemalasan. Usia boleh tua, namun semangatnya untuk menghidupi dirinya dengan teater tak bisa ditekan. “Saya ingin pensiun berteater sampai benar-benar tak mampu lagi berpentas,” kata seniman yang mengaku pernah vakum pada 1987 hingga 2010 ini.

Semasa vakum, Yan, lebih banyak bekerja untuk menghidupi keluarganya. Pada 2010 ia kembali berproses dengan pentas drama, dilanjutkan bermonolog lagi sejak 2016 sampai sekarang. Meski tak sebagus saat muda, setidaknya ia ingin menyemangati diri sendiri. Lebih luas lagi menggerakan anak muda agar tak patah semangat untuk berkarya.

Energi positif yang dibawa Yan malam itu ternyata sampai ke penonton. Salah satunya Ira Yulianingrum asal Sukoharjo. Ia melihat Yan sangat totalitas. Bahkan terasa seperti 30 tahun lebih muda dari usia asli. “Ya ini seperti contoh buat anak-anak muda sekarang gimana mereka bisa konsisten berkesenian seperti Pak Yan. Anak saya yang masih kecil aja, tadi langsung diam begitu melihat Yan pentas. Artinya penampilan dia memang sangat menonjol hingga mampu menarik perhatian penonton,” kata dia.