Gelar Pameran, Mahasiswa Arsitektur UNS Solo Soroti Dampak Media Sosial

Pengunjung melihat karya seni arsitektur dalam pameran Archevent 2018 yang diselenggarakan oleh mahasiswa jurusan Arsitektur Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Solo, Jumat (2/11/2018). Pameran sekitar 25 karya seni tersebut digelar hingga Minggu (3/11 - 2018). (Solopos/M.Ferri Setiawan)
02 November 2018 23:10 WIB Ika Yuniati Entertainment Share :

Solopos.com, SOLO - Kehidupan generasi milenial memang tak bisa lepas dari gegap gempita media sosial. Banyak yang memanfaatkan kecanggihan teknologi sebagai media pengembangan diri, namun tak sedikit yang terjebak dalam ruang maya hingga mematikan kreativitasnya.

Ironi media sosial tersebut digambarkan oleh mahasiswa Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS) dalam pameran Archevent Seni dan Arsitektur di Galeri Seni Rupa Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Solo, Kamis-Sabtu (1-3/11/2018). Tema yang relevan dengan era kekinian itu digambarkan lewat karya-karya instalasi, topeng, hingga beberapa miniatur bangunan.

Mahasiswa teknik ini menafsirkan ironi media sosial sekarang ini seperti lorong waktu. Mereka membagi pameran dalam tiga zona yang berurutan. Zona pertama yang dimulai pada pintu masuk dibuka dengan perkenalan generasi era sekarang. Instalasi yang lebih banyak mengusung pengaruh negatif media sosial itu diwakili sekitar lima karya besar.

Salah satunya seseorang yang duduk terbelit kabel dan telepon pintar di tangannya, deretan topeng sebagai simbol wajah manusia, serta kotak informasi yang menyoroti soal maraknya berita hoaks di tengah masyarakat. Di salah satu sudut ruangan, mereka membuat photo booth yang diset seperti kamar kecil lengkap dengan gambar lucu serta meja berantakan di sampingnya. Area foto tersebut seperti menyindir para pelaku media sosial sekarang terlalu sibuk membangun citra diri tapi lupa berkreativitas.

“Media sosial itu hanya mengutip sedikit dari kehidupan seseorang. Yang terlihat bagus dan rapi yang ditonjolkan, padahal itu tidak mewakili. Aslinya, ada sisi-sisi berantakan yang ditutupi,” kata panitia bagian Divisi Property, Dadi Prasojo, menerangkan area photo booth yang dibuat seperti ruang kamar, Jumat (2/11/2018).

Zona Positif

Tafsir media sosial dari kacamata Arsitektur ini berlanjut ke dua zona selanjutnya yakni zona transisi yang berisi transisi, dan terakhir adalah zona positif yang merupakan bagian penutup. Di ruang terakhir itu pengunjung bisa melihat media sosial dari sisi positif. Teknologi hadir sebagai ruang untuk menumbuhkan semangat berkarya. Bisa dilihat dari beberapa instalasi serta urban katalis soal Solo yang digarap para mahasiswa ini.

Terakhir, mereka memamerkan hasil sayembara konstelasi Nasional di dekat pintu keluar. Dadi yang akrab disapa Jojo ini mengatakan deretan karya yang dibuat oleh panitia pameran merupakan bagian kecil dari tugas mereka sebagai seorang arsitektur. Selain membuat bangunan, banyak hal yang menurutnya menjadi bahan pertimbangan. Salah satunya estetika seni meskipun tidak masuk di urutan pertama.

Pengunjung dari Solo, Putri Rahyuni, menilai pameran tersebut seperti ruang refleksi. Media sosial memang seperti dua sisi mata uang yang sama-sama tajam. Bisa merusak kreativitas muda atau sebaliknya. “Sangat menarik karena dibuat oleh mahasiswa di luar jalur seni. Deskripsinya menjadi runtut. Buktinya dibuat seperti perjalanan waktu yang detail mulai perkenalan acara, inti cerita, sampai penutupan,” kata dia.