Peringatan Hari Wayang Dunia Diwarnai Pemecahan Rekor Muri

Dalang Ki Manteb Soedharsono mementaskan wayang kulit dalam Gebyar Wayang Jagat Mendalang di Pendapa Ageng G.P.H. Joyokusumo kompleks Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Selasa (6/11 - 2018). (Solopos/M.Ferri Setiawan)
07 November 2018 19:57 WIB Ika Yuniati Entertainment Share :

Solopos.com, SOLO - Penari senior Wahyu Santosa Prabowo membuka perayaan Hari Wayang Dunia (HWD) di Pendapa Ageng G.P.H. Joyokusumo Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Selasa (6/11/2018) malam dengan tarian sakral. Puja puji dan doa dipanjatkan untuk keberlangsungan wayang sebagai salah satu penopang kebudayaan.

Tak lupa, sang maestro yang pernah menyelesaikan misi 24 jam menari dalam acara Hari Tari Dunia tersebut juga memanjatkan harapan kebaikan untuk perayaan HWD keempat tahun ini. Sejurus kemudian, belasan pemuda yang seragam dengan blangkon dan beskap membawa tokoh-tokoh sentral dalam pewayangan untuk dimainkan di panggung. Mereka pamer sabetan dan beberapa gerak wayang sederhana. Tepuk tangan terdengar riuh menyambut seremonial pembukaan yang dihadiri jajaran birokrat ISI Solo,  beberapa dalang ternama, serta perwakilan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tersebut.

Ki Manteb Soedharsono, yang beberapa kali mendapatkan penghargaan atas dedikasinya mendalang sejak belia, terharu. Ia yang sebelumnya menggelar pentas ruwatan dengan lakon Murwakala tersebut merasa bangga atas apresiasi masyarakat terhadap wayang. Khususnya kepada anak muda yang masih mau melihat dan belajar tentang kesenian yang awalnya berbasis masyarakat itu.

“Saya tentu saja sangat bangga melihat antusiasme masyarakat terhadap HWD. Jadi terharu melihat penghargaan mereka terhadap wayang di era sekarang. Terlebih perjuangan tetap membudayakan wayang di tengah masyarakat itu tidak gampang,” tandas Manteb yang kemudian mengkritik minimnya perhatian pemerintah pada dunia pewayangan.

Sejurus kemudian, Rektor ISI Solo, yang mengawali pembukaan bersama Direktur Kesenian, Ditjend Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Restu Gunawan, menyebut agenda hari pertama itu sebagai malam midodareni. Momen paling penting dalam setiap kegiatan yang isinya doa-doa dan harapan. Mengusung tema Gebyar Wayang Jagat Mendalang, ia ingin mengembalikan wayang pada posisinya sebagai bagian dari fenomena sosial dalam kerangka kebangsaan. Didasari pada spirit Bhineka Tunggal Ika yang mengagungkan kesatuan dalam keberagaman.

Jenis Wayang

Pertunjukan yang akan digelar hingga Jumat (9/11/2018) malam tersebut disemarakkan puluhan dalang dan jenis wayang dari berbagai wilayah. Mulai wayang kulit purwa gaya Surakarta, Yogyakarta, Banyumasan, Jawa Timuran, golek, krucil, beber, wayang dongeng, dan Bali. Pada hari terakhir bakal ada pemecahan rekor Muri dengan pentas wayang dengan kelir sepanjang 135 meter bersama mantan Bupati Wonogiri Ki K.P.A.A. Suro Agul Agul Begug Purnomosidi.

Tak hanya menampung wayang sakral sesuai pakem, HWD juga menampilkan beberapa kreasi baru seperti wayang boneka. Wayang yang disutradarai Trisno Santoso tersebut mengolaborasikan gaya wayang golek dengan pentas teater. Pada Rabu (7/11/2018) pagi, SD Muhammadiyah 1 Surakarta juga menampilkan kolaborasi epik wayang kulit dengan wayang orang.  Trisno yang juga akrab disapa Pelog ini mengatakan karya kreasi tersebut menjadi menunjukkan keterbukaan wayang era sekarang. Tak harus bertema klasik, tetapi juga bisa ditampilkan dengan gaya baru dengan ide cerita beragam.

“Kami melibatkan anak-anak, mengenalkan mereka pada wayang. Mencoba membentuk anak untuk berani tampil,” kata Pelog. Salah satu pencinta wayang dari Jawa Timur, Madiyati, memuji perayaan HWD di ISI berhasil memanjakan para pencinta budaya. Sedikit berlebihan, menurutnya miniatur pewayangan Indonesia digambarkan oleh HWD, karena hampir semua jenis berkumpul jadi satu. “Konsep ini sangat penting untuk mengedukasi masyarakat tentang wayang. Bahwa wayang enggak hanya wayang kulit, tetapi banyak ragamnya,” kata dia.