Wayang Golek Kian Terpinggirkan, Ini Cerita Sang Dalang

Dalang asal kebumen Wido Seno Aji saat mementaskan wayang golek dengan lakon Janenambar di perayaan Hari Wayang Dunia (HWD) hari ketiga, di Pendapa ISI Solo, Kamis (8/11 - 2018). (Solopos/Ika Yuniati)
09 November 2018 19:58 WIB Ika Yuniati Entertainment Share :

Solopos.com, SOLO - Pentas wayang yang dihidupkan dalang Wido Senoaji di Pendapa Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Kamis (8/11/2018) siang ditutup dengan gelak tawa penonton melihat wayang yang terjungkal hingga lantai.

Atraksi wayang golek itu berhasil menarik perhatian penonton. Dalang Wido tersenyum lebar melihat apresiasi masyarakat dalam pakeliran singkat hari ketiga Hari Wayang Dunia HWD) tersebut. “Senang ya melihat apresiasi penonton. Rasanya sudah lama enggak seperti ini. Apalagi enggak semuanya tahu cerita yang saya bawakan,” kata Wido yang juga piawai memainkan wayang kulit, Kamis.

Sebelumnya Dalang Wido membawakan lakon Janenambar. Kisah ini menceritakan raja raksasa dari Janinambar, Raja Rabu Samawati Wal Ardi yang sombong. Ia mengukuhkan dirinya sendiri sebagai Tuhan semesta alam. Semua punggawa kerajaan diberi nama malaikat. Samawati menciptakan tiruan alam semesta seperti bumi, matahari, dan langit.

Semua orang ditantang berduel. Samawati terlalu percaya diri bisa mengalahkan semua orang. Saking jumawa, tokoh wayang golek dalam lakon Janenambar ini bahkan berani melawan dhalang. “Aja mung kowe, dhalange wae aku wani ngelawan. Mrene, celukke sisan [jangankan kamu, dhalangnya saja saya berani melawan. Kesini, panggil dia sekalian,” tantangnya sebelum bertarung dengan Kesatria Puserbumi, Wong Agung Amirambyah.

Cerita tentang keangkuhan Samawati akhirnya berakhir setelah dia dikalahkan oleh sang dalang yang diibaratkan Tuhan dalam Pewayangan. Tubuh boneka wayang dengan kostum merah dan wajah garang itu terjungkal hingga keluar gawangan (sebutan latar Wayang Golek).


Pembuktian

Pentas HWD yang baru diikuti kali pertama ini, kata Wido, sebagai panggung pembuktian eksistensi Wayang Golek. Di tempat kelahirannya, Kebumen, wayang dengan tokoh sentral boneka kayu tersebut jarang dilirik. Tak heran, cerita wayang yang biasanya terinspirasi dari Babad Seribu Satu Malam tersebut tak begitu populer. Kalah dengan nama besar wayang kulit.

Para seniman Wayang Golek berjuang sendirian untuk menghidupkan kesenian tersebut di tengah masyarakat. Ketua II Pepadi Kebumen, Wuryanto, bahkan mengatakan jumlah dalang golek di Kebumen hanya 10 dengan usia rata-rata 40 tahun ke atas.

Mereka kesulitan regenerasi. Anak-anak kecil lebih senang menekuni wayang kulit ketimbang golek yang tak populer. Para seniman berjuang sendiri untuk menjaga nyawa wayang golek. Termasuk berinovasi membuat boneka tokoh masyarakat dan pentas pakeliran singkat agar lebih menarik. “Hasilnya [setelah berbagai upaya]? Ya, sama saja. Saya bisa katakana wayang ini hampir punah,” kata Wuryanto.

Wayang golek tak hanya di Kebumen. Ia juga populer di wilayah Pasundan yang terbentang luas dari Cirebon di sebelah timur sampai wilayah Banten di sebelah barat, serta beberapa wilayah lain di Jawa Tengah. “Jadi menurut saya acara seperti HWD ini sangat penting bagi kami. Sebagai upaya pengenalan sekaligus pelestarian Wayang Golek,” kata Wuryanto.

Selain golek, perhelatan HWD hari ketiga, Kamis, juga dimeriahkan dua dalang Asing dari Hongaria dan Jepang. Berbahasa Jawa, mereka memainkan beberapa fragmen wayang seperti Budhalan dan Bambangan Mlampah.

Selain itu, juga ada pentas dalang cilik, pakeliran singkat Wayang Kancil, Wayang Parwa Bali, dan Wayang Beber sejak hari pertama HWD, Selasa (6/11/2018) hingga Jumat (9/11/2018). Perayaan HWD keempat yang mengusung tema Gebyar Wayang Jagat Mendalang ini bakal ditutup dengan orasi budaya dan wayang pakeliran panjang hingga 135 meter.