Pelajaran Bagi Milenial dari Kisah Legawa Taklukkan Gunung Lawu

Gunung Lawu (Ssolopos/Mariyana Ricky P.D.)
25 November 2018 14:55 WIB Ika Yuniati Entertainment Share :

Solopos.com, SOLO -- Tawa lepas terdengar memenuhi Auditorium Sarsito Mangoenkoesoemo RRI Solo, Sabtu (24/11/2018) malam, saat salah satu pemain kethoprak lakon Cempoko Mulyo melempar candaan. Gayanya yang selengekan membuat ratusan penonton yang mayoritas anak muda itu melek. Perhatian mereka kembali terpusatkan pada drama Jawa yang diselenggarakan perkumpulan sosial kemanusiaan Solo Bersimfoni itu.

Cerita yang mengisahkan perjalanan tiga pemuda dari Padepokan Sedayu mencari Kembang Cempaka Mulya di Gunung Lawu itu dipenuhi intrik. Dua pemuda sangat berambisi dan melakukan berbagai cara untuk mendapatkannya. Tersisa satu pemuda bernama Raden Legawa.

Tak seperti kedua rekannya, Legawa lebih kalem dan penuh perhitungan. Selama perjalanan ia justru disibukkan dengan membantu masyarakat ketimbang adu cepat untuk sampai ke Gunung Lawu.

Berbagai permasalah berhasil diselesaikan. Salah satunya ketika ia membantu perseteruan antara Pak Kerto dan Blontang. Setelah berdiskusi panjang, Legawa berhasil mendamaikan keduanya. Tak hanya itu, masih ada beberapa permasalahan yang ia selesaikan dengan menerapkan ilmu Hastha Laku pemberian sang guru.

Hastha Laku yang diambil dari nilai-nilai kebaikan dalam masyarakat Jawa tersebut berisi tepa slira (tenggang rasa), lembah manah (rendah hati), andhap ashor (berbudi luhur), grapyak semanak (ramah tamah), gotong royong, guyub rukun, ewuh pekewuh (saling menghormati), dan pangerten (saling memahami).

Cerita yang ditutup dengan penghargaan bagi Legawa karena berhasil menerapkan Hastha Laku tersebut tak sekadar pentas. Melibatkan puluhan remaja dan Seniman Balekambang sebagai pemain utama, mereka berkomitmen mengampanyekan Hastha Laku demi merawat budaya damai dan toleransi terutama di kalangan remaja.

Sebelumnya, acara yang juga dihadiri Wakil Wali Kota Solo Achmad Purnomo tersebut dibuka dengan pentas singkat dengan kemasan kekinian. Masih dengan tema budaya damai dan toleransi, para remaja menghidupan panggung dengan drama yang dekat dengan kehidupan mereka. Seperti anjuran tertib lalu lintas dengan tokoh utama Dilan dan Milea.

“Ingat, bahwa tidak tertib berlalu lintas bisa berakibat fatal. Membuat kalian kehilangan semuanya, termasuk pacar,” ucap pemandu acara disambut tawa lepas penonton.

Mahasiswi kampus swasta Solo, Inas Pratiwi, 20, yang datang bersama rekan sebayanya sepakat dengan seruan menyebarkan semangat perdamaian dan toleransi lewat kesenian. Gerakan melawan kekerasan, dan intoleran perlu ditanamkan sejak muda.

“Begitu juga dengan kesenian tradisi yang harus dikenalkan kepada anak muda sejak dini. Enggak hanya untuk melestarikan, tetapi juga sebagai upaya mendukung gerakan perdamaian tersebut. Budaya Jawa mengandung nilai-nilai kebaikan yang bisa kita terapkan,” kata dia.

Ketua Solo Bersimfoni, Muhammad Farid, dalam sambutannya mengatakan perkumpulan sosial tersebut dibentuk untuk mereduksi perilaku-perilaku intoleran dan menghidupkan suasana damai. Mengusung Hastha Laku sebagai kurikulum dasar, mereka ingin mendorong perilaku anti kekerasan di kalangan remaja dengan pendekatan budaya. “Kami percaya dengan pendekatan budaya ini mampu mereduksi perilaku-perilaku buruk tersebut,” kata dia.

Selain pentas kethoprak, acara tersebut juga dimeriahkan dengan festival wedangan dengan menghadirkan delapan gerobak HIK. Festival yang digelar di pelataran RRI tersebut diberikan gratis untuk masyarakat umum. Ratusan masyarakat menyerbu lokasi festival sejak pukul 19.00 WIB.