Film-Film Dokumenter Karya Sineas Klaten Ini Melenggang di Kancah Internasional

Tonny Trimarsanto menunjukkan Piala Citra film dokumenter terbaik hasil penganugerahan Festival Film Indonesia (FFI) 2017 di Perum Griya Prima Barat RT 5/RW 19, Belang Wetan, Klaten,Rabu (5/12 - 2018).(Solopos/Ponco Suseno)
07 Desember 2018 20:42 WIB Ponco Suseno Entertainment Share :

Solopos.com, KLATEN - Di tengah prospeknya menjadi sineas film fiksi semakin terbuka, warga Perum Griya Prima Barat RT 5/RW 19, Belang Wetan, Klaten ini justru menjauhi jalan tersebut. Tonny Trimarsanto telah memilih jalan hidupnya sendiri. Ayah dari tiga anak ini memilih menekuni jalur film dokumenter.

Tonny optimistis film dokumenter akan naik daun dalam waktu lima tahun ke depan. Tantangan yang diperoleh sebagai sineas dokumenter menurutnya lebih berat dibandingkan menjadi sineas film fiksi. Berbekal membuat film dokumenter, Tonny merasa lebih dekat dengan pemeran utama yang diangkat dalam filmnya. Lama waktu pembuatan film dokumenter bervariasi, mulai dari hanya hitungan jam hingga ada yang hampir lima tahun.

Tonny menyadari skala pasar film dokumenter masih sangat kecil. Di balik masih minimnya sineas yang menggeluti dokumenter, justru ini peluang bagi Tony agar karya filmya lebih dikenal di tingkat lokal bahkan internasional. Salah satu karyanya berjudul Bulu Mata pernah menyabet Piala Citra film dokumenter terbaik penganugerahan Festival Film Indonesia (FFI) 2017 di Sulawesi.

“Karya film dokumenter yang saya hasilkan sudah di atas 40-an film. Dari jumlah itu, separuhnya pernah ditampilkan di festival internasional. Ada juga yang dibeli televisi asing [asal Jepang] dengan nilai Rp200 juta. Film itu cerita tentang seorang laki-laki yang memiliki 12 istri di Sumba. Durasi film selama 30 menit,” kata pria berusia 48 tahun itu, saat ditemui wartawan di rumahnya, Rabu (5/12/2018).


Media Sosial

Berbagai film dokumenter karya Tonny yang pernah melenggang di festival internasional biasanya bertema isu-isu penting yang belum digarap media mainstream atau pun media sosial (medsos). Karyanya yang diputar di festival film internasional, salah satunya It’s a Beatiful Day yang pernah diputar di Italia pada 2011.

Dengan banyak pengalaman, rupanya Tony tak ingin menikmatinya sendirinya. Mulai 2002, Tonny membuka rumah dokumenter di tempat tinggalnya. Rumah yang dilengkapi joglo kecil di bagian depan itu menjadi tempat pembelajaran bagi siapa pun yang ingin belajar tentang film dokumenter. Selain mahasiswa dan dosen, rumah dokumenter itu juga sering didatangi para pelajar dari berbagai daerah yang ingin belajar membuat film dokumenter.

Rumah dokumenter menjadi wujud kegiatan sosial Tonny dalam mentransfer ilmunya ke tengah masyarakat.“Di era 1990-an, saya menjadi periset materi layar lebar karya Garin Nugroho. Tujuh tahun berselang, saya terjun sendiri sebagai seorang sineas film dokumenter. Melalui rumah dokumenter itu, saya harap akan muncul sineas film dokumenter dari kalangan muda,” katanya.

Sekarang, Tonny masih sibuk membuat film dokumenter. Salah satu film yang sedang digarapnya berjudul Sebelum Hujan Turun di Kalimantan yang menceritakan perjuangan petani di Kalimantan yang tak bergantung pada produk pertanian buatan pabrikan. Selain itu ada film tentang Pesantren Waria yang selesai tahun depan, dan film yang menceritakan tentang seorang suami yang memiliki dua istri. “Film-film itu belum jadi. Tapi sudah ada yang minta, yakni ingin diputar di festival di Prancis dalam waktu dekat,” katanya.