SOLOPOS.COM - Olga Lydia. (Instagram @olgaly_dia)

Solopos.com, SOLO-Artis Olga Lydia merupakan salah satu pesohor keturunan Tionghoa yang turut bersuka cita menyambut Imlek, lalu adakah makna tersendiri dari perayaan ini? Simak ulasannya di kabar artis kali ini.

Tahun Baru Imlek 2574 akan dirayakan pada Minggu, 22 Januari. Peringatan tahun Kelinci Air ini merupakan salah satu hari besar bagi masyarakat Tionghoa di seluruh dunia.

Promosi Era Emas SEA Games 1991 dan Cerita Fachri Kabur dari Timnas

Perempuan kelahiran 4 Desember 1976 ini kerap menghabiskan momentum Hari Raya Imlek bersama keluarga besarnya.  “Seperti biasa, malam Imlek saya habiskan bersama keluarga suami dan hari Imlek bersama keluarga saya. Keluarga suami sangat menarik karena mereka memiliki Ama (nenek) yang usianya sudah 106 tahun. Beliau ini seperti tonggak dalam keluarga besar yang menyatukan semua. Sehingga malam Imlek di rumah keluarga suami saya ramai sekali. Itu yang baris antre angpau bisa berpuluh-puluh anak kecil dan dewasa,” kata Olga dikutip dari Antara pada Rabu (18/1/2023).

Menurut Olga Lydia, selain punya makna, perayaan Imlek juga menjadi momentum tepat untuk memaknai keberagaman di Indonesia. Olga menjelaskan bahwa pemahaman akan keberagaman di masyarakat mulai tumbuh ketika dirinya menginjak usia sekolah dasar. Sebagai sosok yang terlahir dari keluarga Tionghoa, lulusan Teknik Sipil Universitas Katolik Parahyangan Bandung ini mengaku sempat merasakan stigma dari teman-teman semasa kecilnya.

“Saat SD, saya sudah mengalami ucapan-ucapan bernada rasisme. Di situ saya merasa bingung dan cenderung denial, kok saya dianggap etnis yang kadang diceletukin tidak enak? Tapi beberapa tahun kemudian saya sampai pada satu kesadaran, saya menjadi etnis Tionghoa karena kehendak Tuhan. Anggap saja ini pekerjaan rumah dan tantangan yang diberikan Tuhan. Kalau kita memang percaya Tuhan, ya kita harus terima diri kita dan orang lain,” tambahnya.

Meski demikian, pemeran Mila di film Ave Maryam ini tumbuh sebagai seorang anak yang tidak pernah menilai perbedaan orang lain. Olga mencermati selama ini banyak hal baik dalam kehidupan antarumat beragama dan antaretnis di Indonesia. Menurutnya, hal tersebut tidak bisa dilihat sebagai sesuatu yang jatuh dari langit semata.

“Tidak ada dalam benak saya untuk merasa berbeda. Pada saat seseorang merasa berbeda, maka belum tentu hal tersebut berdampak positif. Indonesia ini plural, kebaikan harus diusahakan dan dipelihara. Kalau kita cinta Indonesia, kita harus menjaga dengan apapun yang kita bisa,” jelasnya.

Mencermati kondisi saat ini, istri dari Raphael Aris Utama ini juga berharap semakin banyak orang yang mau menciptakan ruang-ruang interaksi yang bersifat nyata. Ia juga mengajak generasi muda saat ini selalu tergerak untuk membuka wawasan dan cara pandang untuk saling mengenal.

“Kita sekarang hidup dalam gelembung-gelembung masing-masing, menghabiskan banyak waktu di sosial media. Ini menyebabkan kehidupan sosial, pertemanan, atau pertemuan kita banyak diatur oleh algoritma komputer. Kita digiring untuk bertemu orang-orang sejenis. Saya ingin mengajak sebanyak mungkin anak muda untuk berteman dengan orang yang berbeda. Hal itu akan membuat kita menjadi lebih kaya. Sebab kaya bukan hanya soal uang, tetapi pengalaman itulah yang paling penting,” tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Saluran WhatsApp dengan klik Soloposcom dan Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini" Klik link ini.
Solopos Stories
Honda Motor Jateng
Honda Motor Jateng
Rekomendasi
Berita Lainnya