Pecas Ndahe Solo Ultah, Siapkan Gugur Satu Tumbuh Seribu

Pementasan Pecas Ndahe di Kampus FSSR UNS, Selasa (4/9/2012) malam. (Burhan Aris Nugraha/JIBI - SOLOPOS)
06 Desember 2013 22:31 WIB Mahardini Nur Afifah Entertainment Share :

Solopos.com, SOLO -- Dua dekade konsisten di jalur musik humor, menjadi pilihan yang dijalani Wisik Sunaryanto (vokalis, selo), Burhanudin Latif (joker, vokalis), Ahmad Nurul M (gitar melodi), Edi Santoso (gitar akustik), Agung Setyawan (bas), Praptomo Wiharyo (drum) dan Sutopo (cak/cuk, joker).

Pasca-kepergian Emil Abdillah (joker, vokalis) yang meninggal dunia awal Juni lalu, Ndaser (penggemar Pecas Ndahe) dibuat bertanya-tanya mengenai kelanjutkan orkes humor yang berdiri 5 September 1993 silam.

Setelah sempat vakum lantaran berduka, Pecas Ndahe kini telah menyiapkan pentas ulang tahun ke-20 berjudul Gugur Satu Tumbuh Seribu, yang digelar di Pendapa Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Rabu (11/12/2013) malam. Pentas orkes humor spesial ini menjadi titik balik Pecas Ndahe.

Kepada wartawan di Wisma Seni TBJT, Jumat (6/12) siang, pentolan Pecas Ndahe, Sutopo, mengutarakan pentas ini bakal melibatkan 30 orang yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, dan rekan seniman dan budayawan.

“Di pentas spesial nanti kami ingin menampilkan sajian yang istimewa. Kami melibatkan orkestra dari pelajar SMKN 8 Solo, permaianan hadrah dari IAIN Surakarta, dan Trio Gegamas dari ISI Solo. Selain itu, Pecas Ndahe juga akan diperkuat dengan pemain additional, Max Baihaqi dan Titus,” terang lelaki yang kerap disapa dengan nama panggung Doel Sumbing ini.

Menurut Doel, pihaknya telah tidak secara khusus menyiapkan naskah untuk penampilannya nanti. Seperti tradisi panggung Pecas Ndahe selama ini, konser ulang tahun nanti juga akan menampilkan lawakan yang mengalir dan kontekstual dengan isu-isu terkini.

Personel Pecas Ndahe lain, Wisik Sunaryanto, membeberkan perubahan Pecas Ndahe di usia dua dekade ini berkutat pada persoalan manajemen grup musik, tanpa mengubah konsep orkes humor yang selama ini menjadi ciri khas grupnya.

“Konsepnya tetap sama. Tapi untuk urusan managerial, saat ini Pecas Ndahe akan melibatkan managemen khusus. Sebelumnya kami dihandel internal,” bebernya.

Disinggung mengenai tema yang digagas dalam pertunjukan ini, Wisik mengatakan Gugur Satu Tumbuh Seribu tidak hanya diasosiakan dengan meninggalnya sosok Emil yang selama ini menjadi salah satu joker andalan.

“Tema ini bukan tertuju pada personal Emil saja. Lewat momentum ini Pecas Ndahe juga akan bangkit dengan formasi baru yang akan digarap lagi,” pungkasnya.