Mencermati Cerita dalam Foto lewat Pameran Weekend Photostory

Pengunjung melihat-lihat pameran photo story karya para peserta Weekend Photostory di Bentara Budaya Solo, Senin (14/1 - 2019). (Solopos/Ika Yuniati)
15 Januari 2019 03:00 WIB Ika Yuniati Entertainment Share :

Solopos.com, SOLO - Jamu cekok yang dibuat dari palawija seperti temulawak, temuireng, lempuyang pahit, dan temu ireng tak hanya dikonsumsi orang tua. Obat herbal ini juga dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit yang menyerang anak-anak. Termasuk sebagai penambah nafsu makan.

Photo story yang dibuat oleh salah satu peserta Weekend Photostory dari Solo, Aslam, menceritakan bagaimana jamu pahit tersebut menjadi minuman ramah anak. Ia menggambarkannya lewat karya berjudul Jamu Cekok Tak Lekang Waktu. Ada enam foto cerita yang disuguhkan, mulai dari gerobak pinggir jalan, proses meracik, hingga akhirnya dikonsumsi anak-anak baik secara paksa maupun atau sadar.

Latar belakang jamu sebagai cekok atau obat untuk anak-anak juga dijelaskan lewat narasi di awal foto. Tulisan singkat tersebut membantu pengunjung menganalisa cerita yang disuguhkan dalam gambar.

Pameran Weekend Photostory yang bertepatan dengan kelas Weekend Photostory ke-7 yang diadakan oleh pewarta foto Boy T. Harjanto di Bentara Budaya Balai Soedjatmoko Solo, Senin (14/1/2019), juga diramaikan 19 peserta lainnya.

Dengan konsep yang sama, peserta workshop menyajikan beragam tema foto cerita yang epik. Mulai dari kisah para pedagang barang-barang bekas di Pasar Klithikan Semanggi yang diberi judul The Klithik Man, susur cerita pembuatan mi lethek di Dusun Bendo, Srandakan, Bantul, hingga kisah para kuli panggul perempuan di Pasar Legi, Solo.

Tulisan yang dibuat oleh sang fotografer tak hanya diisi deskripsi menurut interpretasi mereka. Beberapa dilengkapi dengan latar belakang sejarah diambil dari sumber naskah yang akurat. Gelar karya yang dibuka sejak Kamis (10/1/2019) tersebut akan berakhir, Rabu (16/1/2019).

Sisi Lain

Saat berbincang dengan Solopos.com, Senin (14/1/2019), Boy menekankan pentingnya narasi atau teks dalam sebuah foto. Foto cerita lebih utuh karena menampilkan lima hingga enam karya dengan tema serupa. Seperti berita feature, photostory akan membuat pembaca atau penikmat foto melihat lebih dalam sisi lain suatu kejadian.

“Pentingnya [story] kisahnya utuh, enggak setengah-setengah. Kalau kurang kuat fotonya diperkuat dengan narasinya. Penting banget [cerita] karena menjadi media informasi yang jelas. Kalau tanpa teks panjang enggak semua orang tahu latar belakang dari gambar tersebut,” kata dia.

Program weekend photostory tak hanya di kota-kota besar. Acara pertama pada 2017 silam justru dibuat di Klaten. Tak sendirian, Boy biasanya menggandeng para fotografer setempat untuk membantunya.

Saat di Solo Boy bekerjasama dengan pewarta foto Antara, Maulana Surya. Workshop dengan kelas terbatas ini digelar empat hingga lima hari yang dimulai dengan pemberian materi hingga praktik langsung.

Peserta workshop ketujuh, Fathurrahman, 22, mengatakan rumitnya membuat photo story. Ia biasanya hanya menjepret foto single dengan caption singkat. Hal itu lebih mudah karena cukup dengan satu angle paling menarik. Sementara photo story butuh beberapa angle yang bisa mewakili keutuhan tema. Ia juga wajib mewawancarai subjek foto demi kedalaman karya yang dibuat.

Fathurrahman mengaku mulai tertarik dengan photo story setelah melihat karya Boy dalam buku fotografi berisi materi tentang bencana erupsi Gunung Merapi beberapa tahun silam. Dalam buku tersebut tak hanya disuguhkan letusan, tetapi juga sisi lain para korban dan lainnya yang cukup menarik. “Dalam foto tersebut [buku fotografi Merapi] ada makna yang didapatkan. Itu yang membuat saya tertarik,” kata dia.