Begini Cara Desainer Retno Tan Kritik Perusakan Alam di Papua

Desainer sekaligus penari asal Solo, Retno Tan, saat mengisi diskusi Eco Fashion di Papua, beberapa waktu lalu.(Istimewa - Dokumentasi Pribadi Retno Tan)
31 Januari 2019 01:40 WIB Ika Yuniati Entertainment Share :

Solopos.com, SOLO -- Desainer sekaligus penari asal Solo, Retno Tri Astuti, atau akrab disapa Retno Tan menggarap karya kolaborasi bertema Bumi Papua bersama seniman setempat, Iam Murda. Mereka menggarap karya yang mengkritik perusakan alam Papua berjudul Hip Hope Papua.

Kolaborasi musik, tari, dan nyanyian hip hop bernapaskan Papua tersebut pentas perdana April mendatang di Galeri Indonesia Kaya (GIK) Jakarta. Dilanjutkan tur ke beberapa daerah, termasuk Solo.

Iam sebagai Founder Indonesia Art Movement (IAM) menggagas tari dan konsep musiknya. Sementara, Retno, dipercaya untuk menggarap kostum para penari. Demi menyelesaikan project tersebut, Retno bertolak ke Papua Kamis (25/1/2019) lalu.

“Dari desainnya enggak mau terlalu jauh dari director-nya. Dia kental di Hip Hop, makanya dari segi desain lebih ke street fashion. Tapi nanti akan memakai aksesori Papua,” kata Retno saat dihubungi Solopos.com, Senin (28/1/2019).

Sebelumnya, perempuan yang aktif menyoroti limbah dari industri fashion ini beberapa kali bersentuhan dengan Bumi Papua. Beberapa rancangannya terinspirasi dari Tanah Papua. Bahkan ia pernah melibatkan dua remaja Papua saat menggarap Pelangi Samudra.
Retno masih tinggal di Papua hingga Rabu (30/1/2019).

Di sela-sela project Hip Hope Papua, ia mengisi diskusi di komunitas, mahasiswa, termasuk Ikatan Duta Wisata Papua terkait eco fashion. Retno menilai banyak hal yang harus disampaikan terkait fashion ramah lingkungan. Ia ingin membangun kesadaran pentingnya menjaga lingkungan. Apalagi di Bumi Papua yang belum terlalu tercemari oleh limbah fashion.

“Sekarang ini di Papua sedang gencar-gencarnya soal Internet. Mau sharing ke mereka, tentang bahaya limbah fashion. Harapannya perkembangan di sana juga dibarengi dengan pengetahuan soal eco fashion. Bahwa fashionable enggak harus ganti baju terus mengikuti tren. Tetapi, yang penting punya style,” kata Retno.

Tak hanya sharing bersama sejumlah komunitas, kegiatan di Papua juga dimanfaatkan untuk mencari inspirasi karya selanjutnya. Salah satu yang bakal ia garap adalah konsep busana yang terinspirasi dari migrasi burung di Papua.

“Banyak burung yang mati saat musim migrasi karena penebangan hutan di Papua. Tapi lebih spesifik burungnya memang Cenderawasih. Tapi ini masih in progress sih,” tambah dia.