Anak-Anak Main Drama Kerajaan Burung di Solo, Ih...Gemesnya

Penari dari Sanggar Metta Budaya Solo mementaskan drama musikal Kerajaan Burung karya Saini KM di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Solo, Jumat (1/2/2019) malam. (Solopos - M. Ferri Setiawan)
10 Februari 2019 09:30 WIB Ika Yuniati Entertainment Share :

Solopos.com, SOLO – Kampung Kiku tampak asri. Langit berwarna biru, cuaca cerah ceria. Burung bersayap warna-warni menari dan menyanyi kegirangan. Mereka mengepakkan sayap sembari senyum lebar menyambut hari.

Namun, suasana mendadak penuh ketegangan. Beberapa burung terluka karena terkena lemparan batu ketapel ulah Dudi, dan Didu. Keduanya nekat menyerang meski telah dilarang oleh anak perempuan bernama Kiku. Sampai akhirnya semua burung pulang ke kerajaan mereka.

Kepergian rombongan burung disambut bahagia oleh Dudi dan Didu yang jahil. Tapi tidak bagi warga setempat. Mereka resah karena hama ulat mulai menyerang. Panen gagal, petani kesulitan pangan. Sampai akhirnya, Kiku diminta memanggil kembali para burung penyelamat.
Perjalanan Kiku yang diadaptasi dari naskah drama berjudul Kerajaan Burung karya Saini K.M tersebut dipentaskan 50-an murid Metta Budaya Solo di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) di Solo, Jumat (1/2/2019). Selama hampir dua jam, drama musikal dihidupkan dengan gerak tari dan nyanyian.

Anak-anak menerjemahkan karya terbaik dalam lomba naskah sandiwara anak 1980 versi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) ini sesuai dengan penafsiran mereka. Penonton beberapa kali spontan tertawa. Bukan karena adegannya yang lucu, tetapi melihat tingkah menggemaskan para pemain. Bahkan kejadian lupa dialog pun mengundang gelak tawa.

Begitu juga saat sutradara menghidupkan narasi kampung rusak karena diserang hama. Beberapa orang spontan terpingkal-pingkal melihat anak balita yang terlihat bingung saat kostum tikusnya beberapa kali jatuh. “Bagus banget sih pentas seperti ini. Apalagi kalau ditonton anak-anak,” kata salah satu penonton Tania, Jumat.

Sutradara Kerajaan Burung, Luna Kharisma, saat berbincang dengan Solopos.com mengatakan naskah mengusung isu edukasi animal abuse. Anak-anak dikenalkan tentang pentingnya mencintai lingkungan sejak dini. Tak hanya lewat dialog, ajakan tersebut juga terangkum dalam lirik-lirik lagu yang dinyanyikan sebagai soundtrack pentas.

Setiap potongan adegan dibuat senatural mungkin. Para pemain yang berasal dari usia pra sekolah hingga kuliah dibebaskan untuk mengimajinasikan cerita sesuai tafsiran mereka. “Misal tikus, atau Pak Lurah, saya biarkan pendekatan karakternya sesuai pemahaman mereka. Tapi kalau sudah bingung, sebagai sutradara saya ya mengarahkan,” kata dia.

Acara ini, kata Luna, merupakan pentas tahunan yang diselenggarakan kumpulan alumni Metta Budaya, bernama Metta Birawa. Namun, konsepnya berbeda-beda. Tahun lalu, senior Metta Budaya juga menggelar pentas yang ditujukan sebagai wadah ekspresi para junior mereka. Namun pentas digarap dalam bentuk tarian.