Bukan Uang, Ini Alasan Grup Band Menggelar Konser Reuni

Padi Reborn menghibur penggemarnya saat konser bertajuk "Padi Reborn Intimate Show" di kawasan Kuta, Bali, Rabu (27/2/2019). (ANTARA FOTO - Fikri Yusuf)
06 Maret 2019 20:00 WIB Ika Yuniati Entertainment Share :

Solopos.com, SOLO – Kartikasari, 37, berbinar melihat boyband asal Irlandia, Boyzone, yang menjadi penampil pamungkas Prambanan Jazz 2018 memasuki Rorojonggrang Stage Kompleks Candi Prambanan, Sleman, Jogja, Minggu (19/8/2018) malam. Teriak histeris spontan terdengar begitu Ronan Keating, Shane Lynch, Keith Duffy, dan Mikey mulai menyanyi.

Konser sentimental yang menjadi ajang reuni sekaligus suguhan perpisahan sebelum resmi bubar November 2018 ini menjadi bucket list Kartikasari sejak masih remaja. Tak heran ia menyambut dengan sedikit berlebihan. Mengajak sahabat-sahabatnya dari luar kota dan kompak mengenakan kaus bersablon Boyzone.

“Dulu cuma bisa mimpi untuk nonton konsernya langsung. Pas SMP seneng banget langganan majalah musik buat kumpulin poster. Sekarang benar-benar bisa lihat mereka di depan mata,” kenangnya antusias saat berbincang dengan Solopos.com beberapa waktu lalu.

Nadia, 34, yang datang di Prambanan Jazz 2018 untuk melihat konser reunian Dewa 19 featuring Ari Lasso merasakan hal serupa. Kangen yang dinyanyikan Ari Lasso lengkap dengan iringan musik dari tangan dingin Ahmad Dhani membuatnya kegirangan. Komposisi epik tersebut seolah menjadi lorong waktu menuju masa remajanya.

“Ya ada lah kenangan dengan lagu itu [Kangen]. Bagus sih, jadi nostalgia. Tapi ya enggak semua bisa menjual dengan gaya lama. Seperti pas lihat Boyzone rasanya kok janggal. Dulu saat masih sekolah lihat gaya mereka yang masih muda. Ini sudah bapak-bapak, tapi kenapa gayanya masih dibuat sama ala anak muda, kan rasanya aneh,” kata dia saat berbincang dengan Solopos.com, Jumat (1/3/2019).

Selain Dewa 19, beberapa grup musik Indonesia yang jadi primadona era 90-an hingga 2000-an belakangan ini juga kepincut untuk menggelar konser reunian. Termasuk Padi dengan nama Padi Reborn, Element, dan yang terbaru Jikustik Reunian. Band yang terhitung lebih muda pun menggelar konser reunian bersama mantan personelnya, seperti Drive featuring Anji dan Kerispatih featuring Sammy Simorangkir dan Badai.

Jikustik Reunian yang dipromotori Rajawali Indonesia ini digelar pada 29 Maret mendatang di Grand Pacific Hall Yogyakarta. Tampil dengan formasi awal yaitu Dadi (Gitar & Vokal), Adhit (Keyboard), Carlo (Drum), serta dua mantan personelnya Pongki Barata (Vokal & Gitar) dan Icha (Bass & Vokal). Dijadwalkan pentas selama dua jam, mereka bakal menggeber puluhan hits era 2000-an seperti Setia, Pandangi Langit Malam Ini, Seribu Tahun Lamanya, dan Untuk Dikenang.

Menurut Pongki, mereka bakal membawa konsep bertajuk Rekonsiliasi. Panggung konser nanti menjadi media komunikasi para personel yang sudah hampir satu dekade tak pentas bareng.

“Kalau soal teknik, kami masing-masing adalah musisi yang sudah profesional. Kendalanya pasti ego masing-masing. Ada tiga tim di sini yang harus disatukan, tim Pongki, Icha, dan Jikustik. Dengan tema rekonsiliasi, penonton akan menyaksikan bagaimana kami tampil kembali setelah 10 tahun enggak main bareng,” kata dia saat ditanya soal persiapan konser via Whatsapp, Kamis (28/2/2019).

Pongki mengatakan Jikustik Reunian tak lepas dari konsep menarik yang disampaikan pihak promotor, Rajawali Indonesia. Menurutnya sejak lima tahun terakhir banyak yang menawari pentas reuni. Namun sejauh ini hanya Rajawali Indonesia yang membuatnya yakin.

Disusul antusiasme penikmat musik Indonesia terhadap grup lawas yang diyakini masih cukup tinggi. Naif misalnya. Masih digawangi vokalis lama yang usianya lebih dari 40 tahun, mereka mampu menggaet ribuan milenial saat konser di acara Artefac UNS Solo, tahun lalu. Terkait dengan itu, Pongki tak bisa memungkiri kekuatan terbesar grup musik era 2000-an adalah persaingan pada komposisi dan lirik yang menarik. Sehingga kontennya masih bisa diterima lintas generasi.

CEO Rajawali Indonesia, Anas Syahrul Alimi, menyebutkan salah satu pertimbangan pemilihan musikus dalam konser reuni adalah produktivitas para musikus. Keterlibatan Jikustik di belantika musik Indonesia, menurutnya, menjadi sebuah bukti adanya sebuah grup musik yang begitu produktif dalam membuat karya. Tak heran lagu-lagunya masih sering diputar hingga saat ini. Informasi mengenai acara ini bisa dilihat langsung pada akun instgram @RajawaliIndonesia.

Jikustik formasi awal tak pernah terlupakan, walau sampai saat ini mereka masih tetap eksis dengan formasi baru. Berangkat dari hal tersebut, kami berencana untuk membuat sebuah konser ini,” kata Anas dalam rilis yang diterima Solopos.com, Kamis.