Film Karya Sutradara Asal Klaten ini Ungkap Tradisi Poligami di Tanah Sumba

Potongan adegan film dokumenter A Man with 12 Wives karya Tonny Trimarsanto. (Istimewa - Tonny Trimarsanto)
11 Maret 2019 02:00 WIB Ika Yuniati Entertainment Share :

Solopos.com, SOLO – Sistem perkawinan dengan memperbolehkan punya istri lebih dari satu orang yang biasa disebut dengan poligami selalu disangkutkan dengan isu agama. Pro dan kontra bermunculan merespons praktik pernikahan ini.

Terlepas dari perdebatan tersebut, praktik poligami tumbuh subur atas nama budaya di wilayah Kodi Balghar, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT). Para pria biasa menikahi lebih dari satu wanita. Kakek-kakek bernama MD Raya bahkan memperistri 12 orang. Mereka hidup bersama dalam satu desa minim fasilitas yang mengandalkan hidupnya dari berkebun dan hasil ladang.

Realitas kehidupan sang kakek flamboyan digambarkan sutradara asal Klaten, Tonny Trimarsanto, dalam film dokumenter berjudul A Man with 12 Wives. Tonny merekam aktivitas Raya bersama istri, anak, cucu, dan masyarakat sekitar.

Trailer film yang diunggah beberapa tahun lalu di akun Youtube-nya dibuka dengan gambaran rumah adat masyarakat Sumba. Disusul dengan wawancara singkat salah satu anak Raya dari istri ke-12 yang terlihat santai, dan aktivitas lainnya.

Di salah satu video, ia merekam pernyataan seorang cucu perempuan yang mengancam sembari berkelakar akan ‘membunuh’ sang kakek kalau sampai menikah lagi. “Sangat manusiawi [pernyataan tersebut]. Perasaannya paling dalam sebagai perempuan. Tapi sebenarnya ada pertanyaan sederhananya yang belum menemukan jawaban yaitu apakah mungkin cinta itu bisa dibagi dengan kualitas dan kuantitas yang sama. Kadar [cinta] itu kan sangat relatif, subjektif,” kata Tonny saat diwawancarai Solopos.com, Kamis (7/3/2019).

Menariknya lagi, pernikahan tersebut juga memengaruhi perjalanan politik sang kakek. Raya pernah menjabat Kepala Desa di Kodi Balaghar selama lebih dari 30 tahun karena selalu menang suara. Jumlah anggota keluarga dari 12 istri, 58 anak, dan 250 cucu menguntungkannya. Ia menguasai lebih dari 50% total suara jika ditambah saudara, besan dan menantu. Mengingat total pemilih di kampung tersebut hanya 700 jiwa.

Tonny mengikuti kehidupan keluarga Raya dengan relasi-relasi yang unik di antara mereka. Serta melihat perubahan yang terjadi ketika sang tokoh utama tak lagi menjabat sebagai kepala desa. “Dari kehidupan yang cukup, kini MD Raya harus mampu mengubah cara pandang anak anaknya dalam berkeluarga. Ada banyak persoalan baru yang muncul dan harus dituntaskan oleh MD Raya dan keluarga besarnya,” terang Tonny.

Pengajar Penciptaan Seni, Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, ini tak ingin menggiring masyarakat ke satu opini tertentu lewat film A Man with 12 Wives. Ia hanya memperlihatkan realitas poligami lengkap dengan berbagai persoalan dan konsekuensi logisnya. Tonny menggambarkan dampak serius yang harus disikapi terkait poligami.

Film ini digarap sejak 2011. Berawal dari ketidaksengajaannya saat shooting produk rokok di Sumba. Salah satu kru memberitahu Tonny soal praktik poligami di kecamatan setempat. Setelah ditelisik, ia tertarik membuat film hingga bolak-balik Solo–Sumba mulai 2011 hingga 2016. Berdurasi 30 menit, A Man with 12 Wives tayang perdana di stasiun televisi NHK Jepang. Diputar dalam program Inside Land yang khusus memutar karya sineas dari berbagai negara. Ini merupakan kerja sama keduanya bersama NHK. Sebelumnya pada tahun 1995 ia menggarap cerita kemerdekaan dengan judul Dongeng Kancil tentang Kemerdekaan.

Narasi poligami dari tanah Sumba ini juga pernah diputar di beberapa festival. Pada Rabu (6/3/2019) malam Tonny menggelar screening dan diskusi di Rumah Dokumenter Klaten. “Sebenarnya banyak yang meminta untuk pemutaran film ini di beberapa tempat lain. Tapi karena ini terkait dengan NHK Jepang juga, jadi saya harus minta izin dulu ke mereka. Sementara saya list lalu menunggu izin dan kepastian dari NHK,” terangnya.