Puisi Pun Berevolusi dalam Platform Digital, Penasaran?

Penyair asal Bandung Gracia Tobing saat live recording di Studio Lokananta Solo, Senin, belum lama ini.(Istimewa - Tri Widianto)
15 Maret 2019 22:40 WIB Ika Yuniati Entertainment Share :

Solopos.com, SOLO – Banyak cara menikmati diksi-diksi menarik dalam satu judul puisi. Karya sastra yang jamak dijumpai dalam catatan buku tersebut sekarang berevolusi menjadi bagian dari produk digital.

Sejumlah kreator berlomba-lomba membuat inovasi mengenalkan puisi dengan ragam cara. Salah satunya lewat dokumentasi audio agar mudah dinikmati dalam berbagai situasi.

Salah satu penyair yang giat merekam puisi adalah Gracia Tobing. Perempuan asal Bandung ini menawarkan karyanya dengan cara berbeda. Selain ditampilkan lewat seni pertunjukan, ia juga mempresentasikan puisinya dalam sebuah project album.

“Ya sebagai salah satu cara menaikkan posisi puisi. Seperti karya audio lainnya, mungkin didistribusikannya ke sejumlah platform digital ya,” kata dia saat ditanya mengenai sasaran distribusi audio puisi tersebut.

Ia sudah menyelesaikan beberapa project di Bandung. Yang terbaru, karya solonya direkam di Studio Lokananta Solo, Senin (4/3/2019) malam. Lebih dari 10 puisi dibawakan dalam konsep live recording tanpa iringan musik.

Lokananta dipilih karena related dengan isu yang ada dalam karya-karyanya. Salah satunya puisi Jika Aku Berkelana yang terinspirasi dari visualisasi salah satu rumah peninggalan Tionghoa di Medan. Spirit rumah besejarah tersebut tentang perjuangan orang Tionghoa membangun kehidupan di Medan yang kemudian setelah meninggal hartanya diberikan kepada pribumi. Misinya hampir mirip dengan latar belakang pembangunan Lokananta.

Selain itu masih ada beberapa judul epik lain seperti Tanya Kamu dalam empat sub judul, atau Bangun Pertiwi. Total karya berdurasi hampir 40 menit. “Ada sekitar sepuluh judul puisi, kalau dibuat buku ya nanggung. Makanya saya berpikir untuk membuat album ini. Di project lain bahkan ada satu album yang hanya berisi satu puisi,” kata dia.

Project album puisi merupakan bentuk terima kasih atas pertemuannya dengan puisi. Perempuan yang menekuni bidang videografi dan desain grafis ini mengatakan puisi tidak dapat berdiri sendiri jika hanya berbentuk teks, tanpa disuarakan, tanpa ruang, tanpa perlengkapan audio dan tanpa audien. Tak heran jika ia giat menggarap album mandiri tersebut.

Mimpinya adalah menyetarakan suara puisi dengan lagu, sehingga suatu saat nanti pencinta karya sastra bisa menikmati suara puisi lewat berbagai platform digital. Layaknya karya musik, puisi bisa diakses semua orang, menjadi teman baik dalam menjalani aktivitas sehari-hari. “Harapannya juga banyak penyair yang melakukan hal sama seperti ini,” kata dia.