Akhir Maret Ini D’Masiv dan Eva Celia Tampil di Mangkunegaran Jazz Festival

Founder Mangkunegaran Jazz Festival 2019, GPH Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo (tengah) saat jumpa pers bersama tim penyelenggara acara di Pendapa Pura Mangkunegaran Solo, Rabu (13/3/2019).(Solopos - Ika Yuniati)
19 Maret 2019 05:00 WIB Ika Yuniati Entertainment Share :

Solopos.com, SOLO – Akhir tahun lalu masyarakat Solo menjadi saksi kemeriahan konser musikus jaz lokal dan nasional dalam agenda road to Mangkunegaran Jazz Festival 2019 di Pamedan Pura Mangkunegaran Solo. Keindahan panggung di depan bangunan kavallerie-artillerie berhasil menggaet ribuan milenial.

Tahun ini, tepatnya pada Jumat (29/3/2019) dan Sabtu (30/3/2019), konser utama Mangkunegaran Jazz Festival 2019 digelar. Penyanyi beraliran folk-jaz asal Inggris Lianne La Havas yang dipilih sebagai headliner akan menjajal panggung epik berlatar bekas markas Legiun Mangkunegaran tersebut.

Penyanyi yang menjadi artis pembuka konser Coldplay di Asia dan Eropa ini dipastikan membawakan deretan tembang andalan. Di antaranya beberapa judul yang terangkum pada album Is Your Love Big Enough? Album yang membawanya pada penghargaan Album of the Year oleh ITunes Best of 2012.

Project Officer Mangkunegaran Jazz Festival 2019, Fajar Desa Jatidiri Sastrajiwa Badranaya, saat jumpa pers di Pendapa Pura Mangkunegaran, Rabu (13/3), mengatakan ini merupakan panggung spesial Lianne di Indonesia. “Dia belum pernah ke Indonesia. Ini merupakan panggung pertamanya, dan langsung di Solo. Acara ini kami gratiskan sebagai persembahan Mangkunegaran untuk masyarakat Solo,” terang Sastra.

Selain Lianne, konser akbar ini juga menghadirkan deretan musikus Tanah Air. Di antaranya D’Masiv, Ardhito Pramono, Eva Chelia, dan Jordy Waelauruw Feat Tommy Pratomo. D’Masiv yang dikenal dengan lagu-lagu melankolis akan tampil dengan konsep jazz project. Lagu-lagu hitsnya seperti Cinta Ini Membunuhku, dan Rindu Setengah Mati dibawakan berbeda dengan aransemen musik jaz. Selain itu, juga ada beberapa grup jaz Solo seperti Pillipe Jazz, Warisan Jazz, dan Sojazz.

Founder Mangkunegaran Jazz Festival, GPH Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo, saat jumpa pers mengatakan acara ini dikemas kekinian dengan tetap mempertahankan budaya Jawa sebagai ciri khas Pura Mangkunegaran. Akulturasi budaya tradisional dan modern ini bertujuan mengajak milenial agar kembali mencintai budaya Jawa. “Yang membedakan acara kami dengan lain adalah kekayaan konten dalam event tersebut. Konsep acara ini mengedepankan akulturasi budaya tradisional dan modern dengan venue yang punya nilai historis,” kata dia.

Mengusung tema Waragasa yang merupakan akronim dari Jiwa Raga dan Rasa, mereka ingin agenda musik tersebut tak hanya memenuhi kebutuhan masyarakat akan hiburan. Tetapi juga menjadi medium nguri-uri kawruh budaya Jawa yang ada di Pura Mangkunegaran. Uniknya, pada pelaksanaan acara, panitia bakal membagikan jamu gratis kepada para penonton. Pada hari pertama bakal ada pentas tari tradisional oleh Kinarya Soeryo Sumirat di Pendapa Puro Mangkunegaran.

Menggandeng Heru Mataya, acara yang diinisiasi generasi muda Pura Mangkunegaran ini juga dimeriahkan dengan Festival Kain Nusantara. Sejumlah kain nusantara seperti songket Jembrana, kain batik enjang pelangi Ngawi, tenun indigo, ikat nature day, tenun sikaa, kain toraja, batik tulis Solo, pekalongan, dan lurik Klaten bakal dipamerkan di sekitar pendapa mulai hari pertama.

Heru saat jumpa pers mengatakan mereka juga menggelar workshop pada siang hari, fashion show dilanjutkan pentas musik jaz pada malam hari. Festival yang melibatkan perajin, kreator, dan pelestari kain tradisi Indonesia ini diharapkan mampu mendorong pelestarian industri kain tradisi. Sehingga turut berdampak pada perekonomian perajin kain tradisi.