Di Tangan Seniman Ini, Pentas Geguritan di Solo Jadi Tampil Beda

Anggota komunitas Geguritan Anggara Kasih pentas di malam gelar Sastra Jawa di Gedung Teater Tertutup Moertidjono, Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) di Solo, Senin (25/3 - 2019). (istimewa)
28 Maret 2019 19:00 WIB Ika Yuniati Entertainment Share :

Solopos.com, SOLO – Geguritan atau puisi bahasa Jawa berjudul Jaman Edan Mapan Ana Jaman Kalatidha karya Ki Manteb Sudarsono menjadi pentas pamungkas gelar Sastra Jawa Komunitas Anggara Kasih di Gedung Teater Tertutup Murtidjono, Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Solo, Senin (25/3/2019) malam.

Sekuel dari Jaman Edan (1) yang dibuat dengan 18 bait tersebut diterjemahkan ulang menjadi sebuah pertunjukan singkat yang melibatkan puluhan pegiat seni. Para seniman mengolaborasikan pilihan diksi yang dibuat sang dalang kondang dengan tarian, nyanyian para pesinden, dan kepyakan wayang. Diiringi gamelan epik garapan tangan dingin komposer senior Solo, Dedek Wahyudi.

Persis seperti tulisan Ki Manteb, jaman edan digambarkan sebagai suasana chaos. Ketimpangan di mana-mana. Semua orang menghamba pada uang. Mereka berlomba-lomba mencari kenyamanan dan mengejar keuntungan materi. Diibaratkan seperti tikus yang rakus ingin memangsa semuanya.

Aransemen gamelan yang naik turun membuat penonton ikut bergejolak. Mereka sangat menikmati pertunjukan singkat tersebut. Yani salah satunya. Ia yang duduk di barisan depan seolah ikut membaca suasana. Apalagi saat penari Anggono Kusumo masuk di adegan terakhir. Gerak lincah dan wajah tegasnya mampu merepresentasikan kerakusan manusia di jaman edan. Penonton asal Jawa Timur ini merasa puas. Sampai-sampai tak sadar yang dia lihat adalah bagian dari pentas puisi.

“Oh iya. Malah enggak kerasa hloh puisinya. Bagus banget ya geguritan bisa berbuah jadi pertunjukan seperti tadi. Sangat menarik,” terangnya.

Tak hanya itu, acara yang diselenggarakan para pegiat Sastra Jawa ini juga menampilkan puisi lain. Sejumlah judul yang terangkum dalam buku antologi Geguritan Anggara Kasih 2 diterjemahkan dalam berbagai bentuk pertunjukan. Ada yang hanya membaca dengan mengandalkan ekspresi wajah, menggunakan musik akustik, atau mengolaborasikan drama jawa diiringi instrumen gamelan.

Tak sekadar pentas, malam itu penonton diajak berkontemplasi lewat puisi. Tentang kehidupan dan permasalahan bangsa. Hidup yang tak lagi seleh karena hanya mengejar materi. Penguasa yang hanya obral janji dan melakukan berbagai cara hanya untuk merebutkan ‘kursi’. Lebih dari itu, ada juga penggurit memberikan wejangan soal pernikahan, dan pesan kehidupan lainnya.

Pentas yang juga dihadiri Wakil Wali Kota Solo Achmad Purnomo dan puluhan penggurit dari Jawa Timur dan Jawa Tengah ini bertujuan mulia. Penyelenggara acara, Teguh Prihadi, mengatakan pentas geguritan merupakan salah satu cara mereka untuk menarik simpati masyarakat.

“Dengan begini orang jadi melihat bahwa geguritan bisa diterjemahkan lewat pentas yang menarik seperti ini. Sehingga lebih banyak yang suka dengan geguritan. Khususnya para generasi muda,” kata dia.