Suara Gamelan Jadi Penanda Kemunculan Hantu? Begini Komentar Dwiki Dharmawan

Komposer Dwiki Dharmawan. (istimewa)
29 Maret 2019 19:40 WIB Ika Yuniati Entertainment Share :

Solopos.com, SOLO – Musik latar atau film score merupakan bentuk nyata keterikatan dunia film dan musik. Musik latar merupakan karya orisinal yang memang digarap untuk mengiringi gambar sinema. Bentuknya beragam, bisa dialog, sound effect, kolaborasi suara instrumental, dan lainnya.

Komposer yang kerap menggarap film scoring, Dwiki Dharmawan, bahkan mengatakan kesunyian tanpa suara juga disebut latar musik. “Kalau kalian pernah melihat The Mission, adegan mencekam di dalam hutan dibiarkan silent. Hanya terdengar suara air terjun dan keheningan. Itu pilihan yang justru membuat suasana semakin mencekam,” terang Dwiki saat mengisi kuliah umum Pengalaman Menata Musik Film Kontemporer di Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Senin (25/3/2019).

Dwiki pernah mencobanya saat diminta menggarap salah satu judul film beberapa tahun lalu. Ia memilih tak memberi efek apa pun di salah satu adegan. Sempat dianggap aneh, pilihan tersebut justru dipuji sang sutradara karena membuat suasana semakin hidup. Ia kemudian mengkritik penggarapan latar suara di hampir semua adegan sinetron Indonesia akhir-akhir ini. Hal itu justru bising karena penonton tak diberi jeda.

Berdasarkan pengalaman Dwiki, hal paling mendasar dalam membuat latar suara film adalah andalkan feeling. Selama ini ia beberapa kali mempraktikkan teori dan teknik film score. Namun tak ada yang sesuai dengan kemauannya dan sutradara. Untuk itu ia membuat rumusan sendiri soal pelibatan feeling di pembuat. Tentunya juga dipengaruhi latar sejarah dan pengalaman bermusik sang komposer.

Dwiki beberapa kali memasukkan instrumen tradisional. Misal rebab dan suara pesinden Banyuwangi di film Cinta dalam Sepotong Roti (1991). Dwiki mengaku lebih puas ketika menggarap musik dari instrumen asli. Namun di beberapa kasus ia kerap memanfaatkan synthesizer suara elektronik.

Sementara untuk teknik penggarapannya, ia biasanya membuat dubbing setelah adegan dalam film telah selesai. Namun tak jarang ia juga ikut shooting dan membuat musik bersamaan dengan pengambilan gambar. Contohnya musik gendang Melayu yang dibawakan langsung dalam film Rindu Kami PadaMu.

Dwiki mengatakan Indonesia dengan beragam budaya sebenarnya lebih beruntung dari negara Eropa yang memiliki pakem khusus latar musik untuk film sains. Garapan superhero Marvel atau DC misalnya, cenderung punya model latar musik yang sama misalnya mengacu pada garapan John Williams. Sementara Indonesia lebih dibebasakan sehingga musikus punya kesempatan eksplorasi lebih luas.

“Tapi itu berlaku hanya pada film tertentu ya. Bukan film mainstream seperti Dilan misalnya. Saya juga heran, film saya jarang laris di bioskop. Tapi sering mendapat penghargaan di luar negeri,” kelakarnya.

Namun kebebasan tersebut bukanlah hal mutlak. Seorang komposer tetap punya tanggung jawab membuat musik yang sesuai dengan isi film. Penggunaan gamelan sebagai penanda kemunculan makhluk gaib dalam film horor merupakan aplikasi yang kurang tepat. Hal itu membuat stigma gamelan berubah menjadi simbol unsur gaib.