Di Solo, Penyanyi Blasteran Amerika-Filipina Ini...

Penyanyi blasteran Ameriak/Filipina, Sandrayati Fay, saat tampil di Solo.
02 April 2019 19:00 WIB Ika Yuniati Entertainment Share :

Solopos.com, SOLO -- Lahir dan besar di Bali membuat penyanyi berdarah Amerika-Filipina, Sandrayati Fay, lebih sensitif. Bara konflik agrarian di Pulau Dewata tersebut membuatnya tak bisa tinggal diam. Ia melayangkan protes tentang pelanggaran dan perusakan lewat lagu-lagu yang berkaitan dengan alam. Liriknya lembut dan menyuarakan keindahan. Sedikit berbeda dengan seniornya di grup Navicula dan S.I.D yang frontal membuat karya kritis.

Sandra menulis dan menyanyikan sendiri karyanya. Aktif sejak dua tahun terakhir, ia telah merilis minialbum Bahasa Hati yang berisi belasan lagu seperti Shine, Remember Roots, Free, dan Hutan. Di sela-sela sikap kritisnya ia juga mengekspresikan kegelisahannya tentang identitas dan cinta. Salah satu lagu dibuat untuk menggambarkan perasaan hatinya ketika sedang gundah pascaputus dengan sang kekasih.

“Apa ya. Saya juga buat lagu cinta sih. Banyak lagu yang sudah saya buat,” kata dia saat berbincang dengan Solopos.com seusai acara Stand A Chance on the road – Java tour yang diadakan oleh Siasat Live dan Suarakartalks di Gudang Sekarpace, Jebres, Solo, Selasa (26/3/2019).

Tahun lalu dalam rangka Sumpah Pemuda, ia merilis proyek kolaborasi bersama dua penyanyi perempuan Rara Sekar (Bandaneira), dan Danilla Riyadi. Project bernama Daramuda tersebut berisi kompilasi video karya mereka yang direkam secara live. Semua proses rekaman dilakukan di alam terbuka dengan sistem live recording. Di antara lirik-lirik lagu, penonton bakal dimanjakan dengan suara alam seperti burung, ombak, angin, dan air terjun.

Fay menggarap lagu berjudul Suara Dunia. Terinspirasi dari masyarakat adat Mollo di Nusa Tenggara Timur. Mereka melawan para penambang marmer selama tiga belas tahun untuk melindungi tanah leluhur supaya tetap lestari. Mama Aleta adalah pejuang perempuan sekaligus tetua adat yang menjadi sumber inspirasinya.

Tak hanya lewat lagu, Fay, juga aktif dalam organisasi One Dollar For Music Foundation. Serta bekerja sama dengan organisasi Samdhana. Mereka fokus pada hak-hak masyarakat, lingkungan, dan adat di seluruh Asia Tenggara.