Liku-Liku Karier Mus Mulyadi, Si Buaya Keroncong Indonesia

Mus Mulyadi (tengah). (Facebook/Mus Mulyadi)
11 April 2019 14:00 WIB Chelin Indra Sushmita Entertainment Share :

Solopos.com, SOLO – Jagat musik Indonesia kembali berduka. Maestro keroncong legendaris, Mus Mulyadi, meninggal dunia, Kamis (11/4/2019). Dia meninggal dunia setelah 12 tahun menderita penyakit diabetes sampai mengaburkan penglihatannya.

Kabar duka itu disampaikan putra Mus Mulyadi, Erick Renanda Haryadi, melalui akun Instagram-nya, @erick_mus. Erick mengatakan, Mul Mulyadi meninggal setelah dirawat di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan, sejak Selasa (9/4/2019).

Sepanjang hidupnya, pria kelahiran Surabaya, Jawa Timur, 14 Agustus 1945 itu dikenal sebagai penyanyi keroncong. Mus Mulyadi bahkan mendapat julukan Si Buaya Keroncong karena popularitasnya yang luar biasa.

Dikutip dari Wikipedia, bakat seni Mus Mulyadi lahir dari pengaruh keluarganya yang merupakan seniman. Ayajnya seorang pemain gamelan, dua kakaknya, Sumiati dan Mulyono, dikenal sebagai penyanyi keroncong di Belanda dan Surabaya. Adiknya, Mus Mujiono, juga memilih musik beraliran pop dan jaz.

Sebelum mejadi penyanyi solo, Mus Mulyadi membentuk grup musik Irama Puspita di Surabaya. Dia yang kala itu masih remaja menjadi pelatih Irama Puspita yang beranggotakan 13 wanita perkasa selama beberapa tahun.

Mus Mulyadi juga sempat bergabung dengan grup musik Arista Birawa pada 1964. Kala itu, dia menjadi pemain bas merangkap vokalis. Kariernya bersama grup musik ini cukup bagus, sampai menggelar tur di Singapura.

Pada 1971, Mus Mulyadi rekaman solo yang kemudian bergabung dengan grup musik Favourite’s Group. Di sela kesibukannya bersama band itu, Mus Mulyadi ditawari untuk membuat album solo. Salah satu lagu yang meledak dari album tersebut merupakan karya Is Haryanto berjudul Rek Ayo Rek. Lagu ini bahkan menjadi ikon abadi di Kota Surabaya.

Sejak saat itu, Mus Mulyadi menjajal menyanyikan lagu pop-keroncong. Hasilnya ternyata di luar dugaan. Albumnya laris manis di pasaran yang membuatnya sukses menggelar konser di luar negeri, seperti Belanda dan Amerika Serikat. Itulah sebabnya dia dijuluki The King of Keroncong alias Buaya Keroncong. Lagunya yang masih hits sampai saat ini adalah Kota Solo, Dinda Bestari, Telomoyo, dan Jembatan Merah.