Begini Kenangan Musikus Solo tentang Maestro Keroncong Mus Mulyadi

Mendiang Mus Mulyadi saat berbincang dengan Ratu Keroncong Solo, Waldjinah, di sebuah acara beberapa tahun lalu. (Dokumentasi Istimewa / Keluarga Waldjinah)
11 April 2019 23:00 WIB Ika Yuniati Entertainment Share :

Solopos.com, SOLO – Musik keroncong telah melahirkan sejumlah legenda, salah satunya Mus Mulyadi. Pada Kamis (11/4/2019), tepat di usia 73 tahun, Mus Mulyadi berpulang.

Meninggalnya legenda keroncong asal Surabaya ini menyisakan kesedihan bagi musikus Tanah Air. Termasuk beberapa seniman Solo yang pernah bersinggungan langsung dengan penyanyi Rek Ayo Rek ini.

Sang ratu keroncong asal Solo, Waldjinah, 74, sedikit berkaca-kaca saat menyampaikan perasaan sedih mendengar kabar duka tersebut. Ia diberitahu soal meninggalnya sahabat karibnya itu, Kamis (12/4/2019) pagi, oleh anaknya. “Heh? Aku kaget, kaget banget. Larane apa? Ya kelangan banget, aku kelangan teman yang sejati. Wis kaya sedulur,” kata Waldjinah ketika ditemui Solopos.com di kediamannya, Kamis siang.

Ia lantas mengenang pertemuan terakhirnya dengan mendiang Mus Mulyadi pada 2016 lalu saat menerima penghargaan Yayasan Cipta Budaya di Jakarta. Sebelumnya mereka juga pernah bersua pada 2010 ketika sama-sama mengisi Solo Keroncong Festival (SKF). Lalu, keduanya dijadwalkan bertemu lagi dalam acara peresmian Jatim Park 3 di Malang. “Ya tapi Tuhan berkehendak lain,” kata Waldjinah.

Kesan Waldjinah terhadap sahabat karibnya itu tak pernah berubah dari pertama bertemu sampai sekarang. Mus Mulyadi menurutnya adalah seniman yang sangat humoris. Mereka sering menggarap album kolaborasi seperti Panglinga Wonge, Pop Jawa, dan beberapa VCD karaoke. Setiap kali kerja bareng, Mus Mulyadi yang juga pernah tampil di film Putri Solo dan Aku Mau Hidup ini selalu melucu hingga membuatnya dan rekan sesama musikus terpingkal-pingkal.

Yang paling diingat Waldjinah adalah tebak-tebakan khas Surabaya yang ceplas-ceplos dan sedikit rusuh. Bahkan ketika mampir ke rumah Waldjinah di Solo pun, Mus Mulyadi tak pernah lupa melontarkan tebak-tebakan. Putra Waldjinah, Ari Purnama, sampai hafal dengan kebiasaan sahabat dekat ibunya tersebut.

Kondisi penglihatannya yang menurun akibat diabetes bahkan juga ditanggapi Mus Mulyadi dengan guyonan. Saat mengisi di acara SKF 2010 misalnya, musisi kelahiran Surabaya, 14 Agustus 1945 ini berulang kali menyanyi membelakangi atau menyampingi penonton karena tidak tahu arah. Hal itu sontak membuat penonton kompak ger-geran. Mus Mulyadi yang mendengar respons pengunjung, ikut tertawa. “Padahal kemarin baru rasanan ngajak dia ke SKF lagi, biar dia semangat lagi. Tapi malah dengar kabar ini,” kata Waldjinah.

Hal penting, yang menurut Waldjinah selalu dikatakan Mus Mulyadi adalah pesan Golek Jeneng, Aja Golek Jenang. Ini merupakan bebasan Jawa yang dapat dimaknai: menjadi seniman harus senantiasa meningkatkan kualitas untuk mencari nama, setelah itu soal materi otomatis mengikuti. Bukan sebaliknya, terlalu semangat mengharapkan imbalan tanpa memerhatikan kualitas karya.

Hobi melawak Mus Mulyadi juga diamini Ketua Himpunan Artis Musik Keroncong Indonesia (Hamkri) Solo, Wartono. Ia melihat sendiri sang senior melucu di panggung SKF sembilan tahun silam. Menurutnya, itu dimaknai sebagai sikap positif Mus Mulyadi menanggapi kondisi indera penglihatannya yang kian menurun.

Mus Mulyadi yang pernah dikritik habis-habisan para senior karena memperkenalkan cengkok anyaran ini juga cukup demokratis. Kakak kandung musikus jaz Mus Mujiono ini mempersilakan anak muda mengeksplorasi keroncong sesuka mereka. Asalkan, jangan terlepas dari pakem yang sudah ada. Ia khawatir jika terlalu dibatasi, anak muda semakin jauh dari Keroncong.

Wartono menilai justru dengan cengkok tak biasa ala Mus Mulyadi, keroncong bangkit lagi. Era 90-an adalah masa ketika gema musik tradisional ini meredup. Saat itu cengkok baru Mus Mulyadi menghidupkan kembali gairah berkeroncong anak muda Solo dan sekitarnya. “Waktu itu memang banyak senior keroncong yang protes dengan gaya Pak Mus. Tapi dia tetap semangat dan konsisten. Tapi saya bilang, justru dengan cengkok itu dia berhasil membangkitkan semangat keroncong. Yang waktu itu kolaps,” kenang Wartono yang kala itu masih duduk di bangku SMP.

Penyanyi keroncong Endah Laras yang mengidolakan Mus Mulyadi sejak muda juga merasa sangat kehilangan atas kepergian sang senior. Ia masih ingat betul pertemuan pertamanya dengan Mus Mulyadi sekitar 1999. Saat itu ia berduet lagu Kembang Kecubung karya Manthous. Mus Mulyadi terlihat sangat menguasai dengan ciri khas lenggak-lenggok cengkok yang variatif dan enak didengar.

Kualitas penyanyi yang mengawali kariernya di dunia musik sebagai personel Favourite's Group ini, menurut Endah, memang tak perlu diragukan lagi. Sekitar dua tahun lalu ketika rekaman album soal Indonesia dan Bela Negara bersama Sruti Respati, dan Sundari Sukoco, Mus Mulyadi memperlihatkan kualitasnya. Ia sangat fasih menghafal lirik lagu-lagu baru meskipun saat itu sudah mengalami kebutaan.

“Beliau jenius, di usia segitu masih fasih hafalke lagu dan rekaman. Penyanyi berkaraker sugih cengkok. Kekayaan cengkoknya itu jadi ciri khas yang luar biasa. Ngijeni. [Saya] ngefans dari dulu. Lagu-lagunya sing paling hits ada Rek Ayo Rek, Gado Gado Jakarta. Dewi Murni, kuwi ya apik banget,” kenang Endah, Kamis.