Begini Cerita Band The Adams Bertahan hingga Lahir Album Baru

Grup musik power pop asal Jakarta, The Adams, saat jumpa pers music tour Authenticity bertajuk Authentic Moment with The Adams, di Lava Bar and Kitchen, Solo, Jumat (3/5 - 2019).
03 Mei 2019 21:30 WIB Ika Yuniati Entertainment Share :

Solopos.com, SOLO – Butuh waktu lama hingga 13 tahun bagi The Adams untuk mempersiapkan album baru berjudul Agterplaas. Ini tergolong lama mengingat karya lama seperti Self Titled (2004), dan V2.05 (2006) digarap dengan jarang yang cukup dekat.

Album yang dirilis Maret 2019 tersebut seolah mengukuhkan eksistensi di jalur indie. Bahwa The Adams tetap menjadi ruang pertemuan berharga di tengah kesibukan para personel yang digawangi Ario Hendarwan (gitar, vokal), Saleh Bin Husein (gitar, suara latar), Pandu Puzztoni (bass, suara latar), dan Kiting (drum, suara latar).

Ale saat berbincang dengan wartawan seusai meet and greet di Lava Bar and Kitchen Banjarsari, Solo, Jumat (3/5/2019) sore, mengatakan masing-masing personel memang memiliki kesibukan lain seperti menggarap band, main film, hingga menjadi seniman. Hal itu menurutnya sangat penting bagi grup indie kawakan seperti mereka. Jika hanya mengandalkan bermusik, menurutnya justru tak sehat karena terlalu berekspektasi dan akan memaksa berkarya. Di sisi lain, mengalaman masing-masing personel justru semakin memperkaya materi The Adams. Mulai dari value, skill, pola kerja, pola pikir, dan lainnya.

Lebih lanjut, Ale mengatakan tak ada treatment khusus yang membuat mereka bertahan sampai sekarang. Pengisi soundtrack film Janji Joni yang memenangi Anugerah Video Musik kategori Video Musik Indie Terbaik 2006 ini menilai karya musik lah yang membuat mereka masih bersama sampai hari ini.

“Kesenangannya sih yang bikin kami bertahan. Kalau ngumpul ya ngobrol, ketawa-ketawa. Ya album [Agterplaas] juga ya [mengikat kami]. Album ini jalan nih, artinya orang apresiasi dengan tur ke mana-mana. Bikin kami jadi makin dekat lagi kan karena harus selalu bersama,” terangnya.

Sementara, mengenai album Agterplaas, sebenarnya sudah direncanakan sejak 2009 silam. Namun karena berbagai kesibukan masing-masing, akhirnya hanya menjadi wacana. Hingga 2014, kata Aryo, mereka baru benar-benar intens memulai proses. Pada 2018 The Adams merilis single Pelantur untuk menyambut Record Store Day, dilanjutkan single Masa-Masa pada 2019.

Aryo mengatakan semua draft lagu sudah siap sejak 2008. Materi tersebut kembali diolah pada 2014. Semangat yang ada pada tahun itu juga tak selalu konsisten. Tapi mereka terus menikmati proses hingga akhirnya selesai di awal 2019. Padahal selama ini tak pernah membuat deadline khusus. “Trigger justru ada di lagu itu sendiri. Ini jadi magnet bagi kami untuk melanjutkan album. Sudah diolah nih masak enggak diselesaikan,” terangnya.

Sementara pengambilan judul Agterplaas berasal dari Bahasa Afrika Selatan yang berarti teras belakang. Selain agar terkesan santai, proses pengerjaan album memang dibuat di studio bernama Teras Belakang milik Kitting.

Dalam album ini, The Adams banyak mengangkat karya personal. Temanya soal nostalgia, ruang, dan pertemuan yang pasti dialami semua orang. Salah satunya pengalaman pribadi Ale dengan kenangan masa lalunya bersama mendiang ibu dan keyboardis yang meninggal 2018 silam. “Kami membawa pendengar ke memori kolektif yang dekat dengan semua orang. Soal ruang, pertemuan, memori, dan doa-doa,” tambahnya.

Sementara, untuk mempromosikan album baru mereka melakukan tur ke berbagai kota. Salah satunya music tour Authenticity bertajuk Authentic Moment with The Adams, di Lava Bar and Kitchen Solo, Jumat (3/5/2019) malam. Sebelum konser, mereka menggelar meet and greet dengan 20 pembeli tiket yang beruntung pada Jumat siang.