Milenial Tak Malu Lagi Gandrungi Dangdut Koplo dan Campursari

Duet Feel Koplo saat tampil di acara Musro Van Java di Music Room (Musro) The Sunan Hotel Solo, Kamis (27/6 - 2019) malam. (Istimewa/The Sunan Hotel)
06 Juli 2019 11:30 WIB Ika Yuniati Entertainment Share :

Solopos.com, SOLO -- Kita bisa memilah genre musik dengan stempel "berkelas" untuk disukai. Tapi soal bunyi dan suara, adalah urusan telinga. Malu mengakui, tapi lama-lama ikut jatuh cinta juga.

Seperti kegandrungan generasi milenial pada dangdut koplo dan campursari. Mereka meramu musik akar rumput tersebut agar sesuai selera. Local pride menjadi identitas baru yang diperbincangan di skena indie maupun media sosial belakangan ini.

“Dulu orang seperti rasis kalau membahas soal dangdut. Mereka yang suka koplo dipandang sebelah mata. Ada semacam kasta yang membuat saya jadi malu mengakui,” kata Laras, 28, salah satu penikmat musik koplo saat diwawancara solopos.com belum lama.

Setahun terakhir ia merasa lebih bebas memilih. Alunan koplo terdengar di mana-mana. Bahkan di kafe yang biasa lebih sering memutar folk atau pop.

Disusul anak muda yang ramai-ramai menggarap lagu koplo dengan rekayasa digital atau dikenal metode remix. Tak tanggung-tanggung, beberapa bahkan mengubah lagu indie yang edgy menjadi musik baru bernafaskan dangdut.

Duo broman asal bandung Maulfi Ikhsan, 26, dan Tendi Ahmad Hidayat, 26, salah satunya. Tembang kritis Efek Rumah Kaca berjudul Sebelah Mata tak luput dari tangan mereka. Dengan iringan koplo, lirik satire tersebut menjadi materi musik yang juga asyik disambut goyangan.

Untuk kali pertama, Feel Koplo tampil di Solo Kamis (27/6/2019) malam. Mereka membawa pukulan kendang dan napas dangdut lainnya ke Music Room (Musro) The Sunan Hotel Solo yang lazim dengan lagu-lagu Barat.

Konsep anyar bertajuk Musro Van Java ini diapresiasi. Penonton yang mayoritas anak muda membeludak. Di bawah lambu disko, para clubbers khusyuk menikmati aransemen koplo.

Maulfi bahkan sudah mempersiapkan tembang andalan yang membuat penonton sing along sambil bergoyang. Stasiun Balapan karya penyanyi campursari Didi Kempot dilempar sebagai karya spesial di Kota Bengawan.

“Setiap tempat kami lemparkan lagu yang berbeda-beda sesuai dengan crowd-nya. Melihat bagaimana antusias yang datang nanti. Ada satu lagu spesial, Stasiun Balapan yang kami persiapkan,” kata dia saat jumpa pers sebelum pentas.

Maulfi tak pernah menduga respons penikmat musik Indonesia begitu besar pada remix garapannya dan Tendi. Mereka baru resmi membentuk Feel Koplo Oktober 2018, tapi showcase tak pernah sepi. Festival musik indie di Jakarta hingga gigs kecil-kecilan kampus selalu membuatnya tergeleng-geleng. Tak ada yang jaim, pria wanita menyambut dengan goyang riang.

Maulfi memang penyuka musik dangdut sejak masih kecil. Beranjak dewasa, ia mulai resah. Selera musiknya dipandang sebelah mata oleh rekan-rekan seusia. Hingga akhirnya membentuk orkes dangdut untuk tampil di sekolah-sekolah Bandung, berlanjut proyek Feel Koplo bareng Tendi.

Tak sekadar remix, mereka juga riset kecil-kecilan dengan rajin mendengarkan Orkes Melayu (OM) Sera untuk menyamakan persepsi. “Awalnya Feel Koplo main di Halloween Party yang dibuat oleh temen. Responsnya bagus, temen yang dulu kayak ‘alergi’ sama dangdut juga antusias. Akhirnya bikin remix lagu-lagu lain, kemudian viral. Kami jejali lagu-lagu lama juga agar semua kenal lagu lama,” kata dia.

Komunitas Penggemar

Tak hanya dangdut, lagu-lagu campursari dan Bahasa Jawa pun demikian. Anak muda Solo ramai-ramai merapal lagu Didi Kempot. Apalagi setelah adanya video viral nonton bareng Didi di Taman Balekambang Solo saat libur Lebaran awal Juni. Sampai akhirnya dibentuk komunitas penggemar yang diberi nama Solo Sad Bois Club.

Kelompok yang memberi gelar Lord alias Godfather of Broken Heart kepada Didi Kempot ini diresmikan saat Musyawarah Nasional pertama di Rumah Blogger Indonesia (RBI) Solo pada pertengahan Juni. Disusul aktifnya akun Instagram paguyuban Solo Sad Bois Club bernama Sobat Ambyar. Diikuti 1.003 follower, SobatAmbyar kerap mengunggah materi foto atau video yang berkaitan dengan Didi Kempot.

Kepopuleran Didi Kempot bahkan sampai ke telinga duo musikus muda asal Belanda, Ciao Lucifer. Saat manggung di Tembi Rumah Budaya, Kamis (27/6/2019), Marnix Dorrestein (gitar, vokal), dan Willem Wits (grum, dan vokal) membawakan lagu Bojo Anyar dengan aransemen musik pop yang powerfull.

“Karena populer [Bojo Anyar], kami mencoba memainkannya. Bagian dari kolaborasi musik lokal Indonesia dengan Belanda. Latihannya hanya beberapa hari,” terang mereka saat jumpa pers sebelum konser di Lokananta Solo, Senin (1/7/2019).

Didi mengatakan selama 23 tahun berkarya, gerakan anak muda tersebut paling berarti baginya. Sosok yang mengaku telah melahirkan 700an judul ini mengaku trenyuh melihat mereka sangat menikmati dan hafal lagu-lagunya.

Etnomusikolog dari Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Aris Setiawan, Senin, mengibaratkan musik seperti gerbong kereta. Mereka berangkat pada satu titik, kemudian kembali pada titik awal.

“Awal kemunculan, Bahasa Jawa dicibir, sekarang dicintai. Kalau pergeseran selera musik anak muda ke lagu-lagu Bahasa Jawa dikarenakan kedekatan kultur musikal dan bahasa,” kata dia.

Karya Didi Kempot menurutnya sangat berpengaruh. Tetapi gejala menyukai lagu-lagu Bahasa Jawa dimulai ketika bahasa daerah dikawinkan dengan gaya musikal musik populer. Dua biduan koplo Via Vallen dan Nella Kharisma juga punya peran penting ikut memopulerkannya.

“Akibatnya pada satu sisi, lagu-lagu Didi Kempot mengalami perkembangan yang baik dalam konteks selera anak muda. Namun di sisi lain, mengalami penurunan ritme dalam gaya campursari. Lagunya kemudian lebih ‘berdangdut’ dibanding dengan bergaya ‘Jawa’. Sebagaimana gaya anak muda, membutuhkan keringkasan dan fleksibilitas,” kata dia.