Film Lima Ajak Masyarakat Memaknai Pancasila

Keseruan sebelum acara nonton bareng (nobar) film Lima di Bioskop XXI The Park Mall Solo Baru, Selasa (5/6 - 2018). (Istimewa)
07 Juni 2018 11:15 WIB Ika Yuniati Entertainment Share :

Solopos.com, SOLO -- Tiga bersaudara, Fara (diperankan Prisia Nasution), Aryo (diperankan Yoga Pratama), dan Adi (Baskara Mahendra), baru saja kehilangan sang bunda, Maryam (diperankan Tri Yudiman). Persoalan dalam film  berjudul Lima ini muncul ketika mereka memperdebatkan bagaimana Maryam dimakamkan.

Maryam adalah seorang muslim, sementara hanya Fara di antara anak-anaknya yang memeluk Islam. Permasalahan soal agama yang mewakili sila pertama Pancasila yaitu Ketuhanan yang Maha Esa selesai. Konflik berkembang ke anak-anak Maryam dan asisten rumah tangganya bernama Ijah.

Masing-masing mewakili empat sila lainnya dalam Pancasila. Adi, misalnya, sering menjadi korban perundungan yang tidak berperikemanusiaan. Fara yang merupakan pelatih renang gamang karena selalu dihadapkan masalah ras saat menentukan atlet pilihan untuk mewakili kompetisi nasional.

Di tengah konflik yang berkecamuk, tanpa sadar mereka kembali pada lima dasar Pancasila yaitu soal ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan. Eksekutif Produser, Julian Foe, saat jumpa pers di Foodpark The Park Mall Solo Baru, Selasa (5/6/2018), mengatakan film ini mengajak masyarakat memaknai kembali Pancasila melalui cerita sederhana.

Dimulai dari lingkungan terdekat kita, yaitu keluarga. Konflik masing-masing tokoh berbeda, namun benang merahnya hampir sama. “Kami mengajak semua belajar Pancasila melalui hal paling sederhana, dimulai dari lingkungan keluarga. Melalui film ini kami juga ingin menggambarkan bahwa sila-sila Pancasila itu masih relevan jika diterapkan dalam permasalahan zaman sekarang,” tambahnya.

Masing-masing sila dalam Pancasila diarahkan sutradara berbeda. Secara keseluruhan, kata Julian, ada lima sutradara, lima penyanyi, dan lima tokoh utama yang terlibat dalam penggarapan film  ini. Di antara sutradara itu ada Lola Amaria dan Shalahuddin Siregar.

Dirilis Kamis (31/5/2018), Lima dipersembahkan untuk menyambut Hari Lahir Pancasila, Jumat (1/6/2018). Baskara saat jumpa pers menambahkan film ini sarat dengan pesan-pesan kemanusiaan. Ia belajar banyak melalui Lima. Misalnya, soal pentingnya melawan tindak pelanggaran di depan mata.

“Saya memerankan tokoh yang sering menjadi korban bully. Kita sering dibilang diam itu emas. Tapi sekarang sudah bukan saatnya kita selalu diam. Kalau ada yang keliru ya kita wajib mengingatkan. Contohnya tindakan bully [seperti karakter yang dia mainkan],” terangnya.

Film Lima sebenarnya dibuat untuk semua usia khususnya remaja hingga dewasa. Karena di usia tersebut para remaja kadang gamang dengan identitas mereka. Namun di awal-awal tayang sempat menuai polemik karena badan sensor film membatasi usia minimal penonton 17 tahun ke atas.

Di Solo film ini hanya diputar di Bioskop XXI The Park Mall dan CGV Transmart Pabelan Kartasura selama dua hari Senin (4/6/2018) dan Selasa (5/6/2018). Ratusan orang dari instansi swasta maupun komunitas lintas agama menggelar nonton bareng (nobar) pada hari kedua di XXI The Park maupun CGV Transmart.

Tokoh masyarakat Solo peraih penghargaan perdamaian PBB, Sumartono Hadinoto, saat jumpa pers mengatakan pentingnya memaknai kembali Pancasila. “Pancasila ini perjuangan dari founding fathers kita Bung Karno. Yang diperjuangan tidak dengan mudah sehingga Pancasila dengan kebinekaan ini harusnya bukan sesuatu yang hanya slogan atau simbol tetapi benar-benar apa yang kita nikmati enggak hanya menikmati kemerdekaan tetapi juga harus menjaga. Yang penting bukan berapa persen darah kita batak, Jawa, Sunda. Tetapi seratus persen darah kita dari Indonesia,” kata Sumartono yang juga aktif sebagai penggerak Pegiat Pancasila.